Rabu, 04 Januari 2012

Kunjungi Dapur Sebelum Masuk ke Bangunan Utama Rumah



            Zaman dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga disuatu desa yang asri, tentram dan damai. Namun, sejak masyarakat di desa tersebut beralih pandangan untuk menggeluti ilmu hitam, yang orang Bali menyebutnya sebagai ilmu pangleakan, ketentraman desa ini pun mulai goyah dan masyarakatnya hidup dengan perasaan tidak tenang. Ilmu hitam ini mulai dianut masyarakat, karena dahulu masyarakat hidup dengan hukum rimba, yakni siapa yang kuat, dialah yang menang dan berkuasa. Ilmu hitam ini juga kerap kali dianut untuk tujuan membalas dendam atau menyakiti orang lain yang diirikan. Jadi, masyarakat yang tidak memiliki ilmu pangleakan atau setidaknya berilmu, maka bersiap-siaplah menunggu kematian. 
            Desa ini bernama desa Tulikup yang terletak di Kabupaten Gianyar sebelah timur. Keluarga yang dikatakan tersebut awalnya hidup tenang di desa Tulikup, tetapi sejak kelahiran seorang bayi, keluarga ini pun selalu dihantui dengan perasaan tidak tenang dan harus selalu waspada. Hal tersebut dikarenakan, para penganut ilmu pangleakan akan senantiasa mengintai keluarga yang memiliki bayi atau pun orang sakit untuk dijadikan tumbal atau persembahan kepada tempatnya memeroleh ilmu, yakni Bhatara Durga yang digambarkan dengan sesosok mahluk menyeramkan. Mau tidak mau, sang keluarga harus membuatkan bayi tersebut pangijeng (sebuah benda yang dapat melindungi sang bayi dari ilmu hitam) yang didapatkan dari balian (dukun). Namun, pangijeng tersebut terkadang tidak berfungsi/ kalah, karena ilmu sang leak lebih tinggi dan akan mudah untuk memangsa nyawa sang bayi.
            Pada suatu ketika, keluarga ini sempat kecolongan, karena ada sesosok nenek-nenek datang ke rumah dengan dalih menengok sang bayi. Nenek-nenek ini langsung masuk ke bangunan utama rumah tanpa berkunjung ke dapur terlebih dahulu dan sang nenek juga sempat memegang atau menggendong bayi. Alhasil, bayi pun keesokan harinya sakit tanpa ada tanda-tanda sakit secara medis. Sejatinya, sebagian masyarakat di Tulikup percaya bahwa dapurlah sebagai tempat melebur ilmu magic yang datang dari luar.
Hal tersebut dikarenakan yang berkekuataan di dapur adalah Dewa Brahma sebagai dewa penguasa api (agni) dan gunung berapi sehingga segala pengaruh negatif yang didatangkan dari luar akan dapat dilebur. Terkait dengan hal itu, bahwasanya di dalam dapur memang sering dilakukan aktivitas yang memanfaatkan api sebagai sarananya, seperti kegiatan memasak.
Brahma adalah dewa yang menduduki tempat pertama dalam susunan dewa-dewa Trimūrti, sebagai dewa pencipta alam semesta. Mitologi tentang Brahma muncul pertama kali dan berkembang pada zaman Brahmāna. Brahma dianggap sebagai perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya. Menurut kitab Satapatha Brahmāna, dikatakan bahwa Brahmalah yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas para dewa. Sebaliknya, di dalam kitab Mahabharata dan Purana dikatakan bahwa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Wisnu. Sebagai pencipta dunia, Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati. Beberapa orang bijaksana juga memberinya gelar sebagai Dewa api dan Dewa Brahma saktinya adalah Dewi Saraswati yang menurunkan segala ilmu pengetahuan ke dunia.
            Setelah kejadian itu, keluarga malang ini selalu waspada dan kerap kali ke dapur terlebih dahulu jika anggota keluarga atau pun yang berkunjung itu datang dari luar rumah/ jalanan. Jalanan yang secara kasat mata/ nyata memang hanya dilalui oleh manusia dan mahluk hidup lain pada umumnya, tetapi jika dilihat secara niskala, sebenarnya jalanan tersebut juga dilalui oleh bhuta kala atau mahluk gaib.
Namun, pada dasarnya manusia tidak semuanya dapat melihat mahluk gaib tersebut, karena hanya orang-orang tertentu yang memiliki indera keenam yang dapat melihatnya. Tidak jarang juga mahluk gaib itu mengikuti manusia ketika dalam perjalanan sampai ke rumah sehingga perlu adanya upaya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
            Keluarga yang dikenai oleh ilmu panglekan itu pun akhirnya bersedih, karena sang bayi tidak tertolong lagi dan berhasil dijadikan tumbal oleh sang leak. Tragis memang, tetapi inilah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa ditengah-tengah spiritual untuk mendekati diri dengan sang maha pencipta, berkembang pula ilmu hitam yang tentu akan menjauhkan penganut dari Tuhannya.
Sejak saat itu, masyarakat Tulikup percaya bahwa dapur merupakan tempat yang efektif untuk melebur segala ilmu hitam yang didatangkan dari luar. Sejatinya, sampai saat ini ilmu hitam ini masih berkembang di Bali, khususnya di daerah pedesaan atau pedalaman yang belum banyak terjamah oleh teknologi. Oleh sebab itu, dengan perlindungan para Dewa, khususnya Dewa Brahma yang diyakini oleh sebagian masyarakat bertempat di dapur dengan gelar Dewa Api akan dapat melindungi masyarakat dari segala pengaruh negatif dari luar. Namun, hal tersebut haruslah dibarengi dengan ketaatan umat dalam melakukan bakti kepada Tuhan dengan segala persembahan yang tulus ikhlas. Berbuat baik kepada setiap orang juga akan dapat mengurangi pengaruh negatif kepada keluarga, karena tidak akan ada dendam yang datang dari orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar