
GANGGUAN BICARA PADA MILA (ANAK DENGAN DOWN SYNDROME)

oleh
I Gusti Ngurah Risma Junaedi (0912011009)
Kelas : V B
Mata Kuliah : Psikolinguistik
Tugas Tengah Semester
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2011
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,
Tiada kesuksesan tanpa adanya berkat dari yang Maha Kuasa. Oleh karenanya, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa penulis lontarkan, karena berkat rahmat-Nya serta dengan tekad, usaha, dan semangat tugas mata kuliah Psikolinguistik ini dapat diselesaikan tepat waktu. Penulisan laporan yang berjudul “Gangguan Bicara pada Mila (anak dengan down syndrome)” ini merupakan tugas tengah semester ganjil pada mahasiswa program S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja.
Sejatinya, tiadalah yang sempurna di dunia ini terkecuali Beliau yang menciptakan alam beserta isinya, sehingga penulis pun menyadari akan kemampuan yang terbatas dan laporan yang disusun ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, sangat diharapakan kritik dan saran dari pembaca beserta dosen pembimbing mata kuliah Psikolinguistik pada khususnya, agar dapat menutupi serta melengkapi segala kekurangan dari laporan ini.
Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan motivasi dan bantuan baik secara material maupun non material sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Om Çhanti Çhanti Çhanti Om
Singaraja, Oktober 2011
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………….. 2
1.3 Tujuan…………………………………………………………………… 3
1.4 Manfaat………………………………………………………………….. 3
1.5 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data................................................ 4
BAB II LANDASAN TEORI
2.1.1 Bahasa....................................................................................................... 9
2.2 Bahasa dan Bicara (Reseptif dan Eksprosif)............................................. 11
2.3 Gangguan Bahasa dan Berbicara............................................................... 18
2.4 Mengajarkan Pemahaman dan Tata Bahasa Sesuai Umur................. ........ 29
2.5 Sekilas Mengenai Down Syndrome........................................................... 32
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Penelitian......................................................................................... 39
3.2 Pembahasan Hasil Penelitian.................................................................... 49
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan................................................................................................... 52
4.2 Saran......................................................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan sarana perumusan maksud, melahirkan perasaan, dan memungkinkan kita menciptakan kegiatan sesama manusia, mengatur berbagai aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan rnasa depan kita. Bahasa sebagai alat komunikasi diperoleh manusia sejak lahir sampai usia lima tahun. Orang dewasa selalu terpesona oleh hampir perkembangan bahasa yang ajaib pada anak-anak. Meskipun sepenuhnya lahir tanpa bahasa, pada saat mereka berusia 3 atau 4 tahun, anak-anak secara khusus telah memperoleh beribu-ribu kosakata, sistem fonologi dan gramatika yang kompleks, dan aturan kompleks yang sama untuk bagaimana cara menggunakan bahasa mereka dengan sewajarnya dalam banyak latar sosial.
Kemampuan bahasa tersebutlah yang membedakan manusia dan binatang. Kemampuan bahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya. Hal tersebut dikarenakan bahasa melibatkan kemampuan kognitif, sensori, motorik, psikologis, emosi dan lingkungan disekitar anak (Soetjiningsih.1995). Perkembangan ucapan serta bahasa yang didapat dan diperlihatkan oleh seorang anak merupakan petunjuk yang kelak penting untuk menentukan kemampuan anak tersebut untuk belajar. Perkembangan bicara dan berbahasa itu sebagai petunjuk dini yang lazim untuk mengetahui ada atau tidak adanya disfungsi serebral atau gangguan neorologik ringan yang kelak dapat dapat mengakibatkan kesulitan-kesulitan tingkah laku dan kemampuan belajar. Bahasa dapat dirumuskan sebagai pengetahuan tentang sistem lambang yang digunakan dalam komunikasi secara lisan (Nelson, 1994).
Bahasa berhubungan dengan kemampuan kognitif. Kemampuan bahasa dapat diperlihatkan dengan berbagai cara seperti, cara anak memberikan respon atas petunjuk-petunjuk lisan yang diberikan kepadanya, misalnya dengan gerakan-gerakan yang diperlihatkan oleh anak yang bersangkutan untuk mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan dan pengetahuan tentang lingkungan yang berada di sekelilingnya serta memulai permainan keatif dan imajinatif yang diperlihatkan oleh anak itu (Nelson, 1994). Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak, emosi dan lingkungannya. Menurut NCHS dan berdasarkan atas laporan orang tua, diperkirakan gangguan wicara dan bahasa pada anak sekitar 4 - 5% (diluar gangguan pendengaran serta cela platum).
Disisi lain, anak yang mengalami gangguan pendengaran pada usia dibawah 3 tahun yang terlambat untuk ditangani atau diberi alat bantu dengar akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan sistem komunikasi non verbal oleh dirinya sendiri, maka kesempatan untuk mengajarinya agar mampu berbicara yang dapat dimengerti telah hilang. Dalam hal ini, orang tua lah yang harus peka terhadap berbagai kelainan pada perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak tersebut. Melihat kondisi real dilapangan, masih ada orang tua yang seakan masa bodo terhadap perkembangan bahasa anaknya. Setelah anak tumbuh dan berkembang disertai dengan kelainan bicara yang dimiliki, barulah orang tua yang masa bodo tersebut sadar dan menyesal. Inilah wujud dari kurangnya rasa perhatian orang tua terhadap anak yang sejatinya dalam perkembangannya mereka sangat membutuhkan perhatian lebih dari orang terdekat (orang tua). Dibalik semua itu, masih banyak juga orang tua yang menaruh perhatian lebih kepada anaknya mulai dari anak masih dalam kandungan. Alhasil, anak pun tumbuh dan berkembang dengan baik dan kemampuan berbahasanya juga cenderung baik.
Namun, hingga saat ini nampaknya problema mengenai gangguan bicara pada anak masih gencar-gencarnya dibicarakan. Rasa-rasanya belum ada solusi jitu dalam menangani hal tersebut. Sejatinya, terlebih dahulu perlulah diketahui hal-hal apa saja yang memengaruhi kelainan bicara anak dilihat dari sejarah kelahirannya. Dalam hal ini, penulis pun ingin ikut berpatisipasi melalui penelitian mengenai gangguan bicara anak tersebut, sehingga nantinya ditemukan solusi yang diharapkan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah sejarah kelainan atau keterlambatan bicara pada Mila (anak berumur 11 tahun yang mongoloid)?
1.2.2 Bagaimanakah pandangan atau usaha keluarga dalam menyikapi Mila yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara tersebut?
1.2.3 Bagaimanakah upaya guru dalam menangani masalah anak dengan gangguan atau keterlambatan bicara yang terjadi pada Mila?
1.2.4 Bagaimanakah solusi dalam mengatasi gangguan bicara pada anak dalam perkembangannya?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui sejarah kelainan atau keterlambatan bicara pada Mila (anak yang berumur 11 tahun).
1.3.2 Untuk mengetahui pandangan atau usaha keluarga dalam menyikapi Mila yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara tersebut.
1.3.3 Untuk mengetahui upaya guru dalam menangani masalah anak dengan gangguan atau keterlambatan bicara yang terjadi pada Mila.
1.3.4 Untuk mengetahui solusi dalam mengatasi gangguan bicara pada anak dalam perkembangannya.
1.4 Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak di bawah ini.
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil penelitain ini dapat dijadikan pedoman dalam mengaplikasikan teori-teori belajar pada anak yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara. Fakta-fakta hasil penelitian ini dapat memberikan konfirmasi antara teori belajar yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SLB dengan praktik yang peneliti temukan dalam penelitian terhadap Mila, anak kelas IV SDLB SLB Negeri C Singaraja.
1.4.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan gangguan atau keterlambatan bicara anak, sehingga dapat dipilih solusi atau metode yang tepat dalam menanganinya. Guru dapat membangun motivasi anak dengan keterlambatan bicara melalui metode yang tepat.
2. Bagi sekolah, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi dan memperkaya informasi dalam pemilihan media yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran.
3. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai referensi penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan solusi dalam menangani anak yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara.
4. Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan dalam penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah luar biasa (SLB).
1.5 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
Pada suatu penelitian, ada dua hal utama yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono, 2010:222). Pengumpulan data dalam penelitian perlu dipantau agar data yang diperoleh dapat terjaga tingkat validitas dan reliabilitasnya (Trianto, 2010). Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data yang bisa digunakan untuk menjawab masalah dari penelitian yang dilakukan. Data yang diperlukan untuk menjawab masalah yang diangkat peneliti adalah (1) data mengenai cara penanganan orang tua ketika mendapati anaknya mengalami ketrlambatan berbicara, (2) data mengenai metode yang digunakan guru dalam menangani anak dengan gangguan atau keterlambatan berbicara, membaca dan menulis.
Pada penelitian deskriptif, instrumen utama dalam penelitian adalah peneliti sendiri. Dalam hal ini, peneliti yang mengumpulkan data, mengidentifikasi data, menyeleksi data dan menganalisis data. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang mengatakan bahwa peneliti dapat dikatakan sebagai human instrument. Artinya, dalam mengumpulkan data, menyeleksi dan menafsirkan data peneliti lebih banyak berperan. Pemilihan instrumen adalah untuk mendukung penggunaan metode dalam pengumpulan data. Semua instrumen dalam penelitian ini dirancang dengan matang untuk mendapatkan data yang mendukung penelitian. Peneliti akan dibantu dengan alat bantu yang juga merupakan instrumen pengumpulan data yang berupa, pedoman observasi, pedoman wawancara serta kamera yang nantinya digunakan untuk mengambil gambar mengenai proses pembelajaran anak yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara, membaca dan menulis.
Uraian lengkap mengenai metode serta instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini akan dipaparkan sebagai berikut.
1.5.1 Metode Observasi
Pada dasarnya metode observasi digunakan untuk melihat dan mengamati berbagai fenomena sosial yang terjadi dan menilai mengenai perubahan yang terjadi dalam fenomena sosial tersebut. Metode observasi atau pengamatan yang nantinya akan digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini tentang upaya-upaya yang dilakukan orang tua beserta guru dalam menghadapi anak dengan keterlambatan bicara yang dalam kajian ini siswa yang dimaksud adalah Mila, anak penderita mongoloid di kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja. Observasi yang digunakan oleh peneliti adalah observasi partisifasi aktif yakni, peneliti menghadiri kegiatan pembelajaran, kemudian setelah jam pembelajaran, peneliti berpatisipasi aktif dengan subjek penelitian. Observasi dalam penelitian ini dilakukan dimulai ketika guru membuka pelajaran, kemudian kegiatan guru dalam memberikan materi pelajaran kepada anak yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara, membaca dan menulis.
1.5.2 Metode Wawancara
Metode wawancara dalam penelitian ini nantinya akan digunakan untuk melengkapi data yang telah diperoleh peneliti melalui metode observasi. Metode wawancara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi lisan dari guru dan orang tua siswa mengenai upaya-upaya yang dilakukan dalam menangani keterlambatan bicara pada Mila, siswa kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja. Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur, karena diharapkan nantinya informasi yang diperoleh dapat berkembang sesuai dengan keterkaitan data yang diperlukan.
Pelaksanaan metode wawancara ini adalah sebagai berikut. Wawancara dilakukan dengan guru kelas yang mengajar di kelas IV SDLB SLB Negeri C Singaraja secara informal saat selesai jam pelajaran berlangsung atau pada jam istirahat. Wawancara dilakukan sesegera mungkin agar hal-hal penting tidak terlewatkan. Wawancara berpedoman pada garis-garis besar pertanyaan akan difokuskan terhadap metode yang digunakan guru dalam memberikan materi kepada anak yang mengalami keterlambatan bicara tanpa adanya alternatif jawaban yang telah disiapkan. Sasaran wawancara selanjutnya adalah orang tua anak. Wawancara dilakukan guna mengetahui sejarah atau gejala awal anak mengalami keterlambatan bicara dan upaya yang dilakukan orang tua.
Instrumen yang digunakan dalam metode wawancara untuk menggali data dari orang tua dan guru adalah pedoman wawancara. Contoh pedoman wawancara yang digunakan adalah sebagai berikut.
Pedoman Wawancara Untuk Orang Tua
1. Bagaimana sejarah atau gejala awal keterlambatan bicara yang dialami Mila?
2. Upaya apa yang telah dilakukan ketika diketahui Mila mengalami keterlambatan atau gangguan bicara?
3. Bagaimana perkembangan Mila setelah dilakukan upaya tersebut?
Pedoman Wawancara Untuk Guru
1. Upaya atau metode apa yang digunakan untuk menangani anak dengan keterlambatan atau gangguan bicara, membaca dan menulis?
2. Bagaimana perkembangan anak setelah dilakukan metode tersebut?
1.5.3 Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu, mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, dan agenda (Trianto, 2010:278). Dokumen bisa berbentuk tulisan, dan berbentuk gambar yang berupa foto, gambar hidup dan lain-lain. Penggunaan metode dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2010:240). Metode dokumentasi dapat memperkuat serta menunjang data yang telah diperoleh dengan metode observasi dan wawancara. Pada metode dokumentasi peneliti menggunakan instrumen berupa kamera digital yang nantinya akan digunakan dalam pengambilan gambar-gambar yang dapat mendukung penelitian.
Contoh dokumen yang akan diperoleh peneliti dalam penelitian ini meliputi foto-foto atau gambar mengenai wajah dari anak yang mengalami keterlambatan bicara, kegiatan disekolah dan sehari-harinya.
Alasan peneliti menggunakan ketiga metode tersebut karena penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang mendeskripsikan peristiwa atau kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut (Trianto, 2010:197). Penelitian deskriptif adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian dan mensintesiskan semua jawaban tersebut dalam satu kesimpulan yang merangkum permasalahan penelitian keseluruhan.
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
2.1 Bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan sarana perumusan maksud, melahirkan perasaan, dan memungkinkan kita menciptakan kegiatan sesama manusia, mengatur berbagai aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan rnasa depan kita. Sejatinya, segala hal di dunia ini pastilah selalu berhubungan dengan unsur bahasa, karena melalui bahasa, manusia bisa berinteraksi dengan sesama bahkan berinteraksi dengan alam. Setiap bahasa di dunia ini memiliki karakteristik yang berbeda, bahkan dalam penggunaannya juga terkadang berbeda tergantung konteks ataupun kepentingan pemakainya. Misalnya, karakteristik bahasa dalam pengajaran (pendidikan) cenderung formal, dalam interaksi kehidupan sehari-hari (bermasyarakat) memakai bahasa sehari-hari (non-formal), dan juga dalam dunia jurnalistik pun kerap dikenal dengan karakteristik bahasa yang begitu unik.
2.1.1 Hakikat Bahasa
Para pakar linguistik deskriptif biasanya mendefinisikan bahasa sebagai “satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer,” yang kemudian lazim ditambah dengan” yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.” (Chaer, 1994). Bagian utama dari definisi di atas menyatakan hakikat bahasa itu, dan bagian tambahan menyatakan apa fungsi bahasa itu.
Bagian pertama definisi di atas menyatakan bahwa bahasa itu adalah satu sistem, sama denga sistem-sistem lain, yang sekaligus bersifat sistematis dan bersifat sistemis. Jadi, bahasa itu bukan merupakan satu sistem tunggal melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem (subsistem fonologi, sintaksis, dan leksikon). Sistem bahasa itu merupakan sistem lambang, sama dengan sistem lambang lalu lintas, atau sistem lambang lainnya. Hanya, sistem lambang bahasa ini berupa bunyi, bukan gambar atau tanda lain; dan bunyi itu adalah bunyi bahasa yang dilahirkan oleh alat ucap manusia. Sama dengan sistem lambang lain, sistem lambang bahasa ini juga bersifat arbitrer. Artinya, antara lambang yang berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang dilambangkannya. Maka, pertanyaan, misalnya “mengapa binatang berkaki empat yang biasa dikendarai disebut [kuda],” tidaklah bisa dijelaskan. Pada suatu saat nanti bisa saja atau mungkin saja tidak lagi disebut [kuda], melainkan disebut dengan lambang bunyi lain, sebab bahasa itu bersifat dinamis.
Bagian pertama dari definisi di atas juga menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, maupun wacana memiliki makna tertentu, yang bisa saja berubah pada satu waktu tertentu. Atau, mungkin juga tidak berubah sama sekali.
Bagian tambahan dari definisi di atas menyiratkan fungsi bahasa dilihat dari segi sosial, yaitu bahwa bahasa itu adalah alat interaksi atau alat komunikasi di dalam masyarakat. Tentu saja konsep linguistik deskriptif tentang bahasa itu tidak lengkap, sebab bahasa bukan hanya alat interaksi sosial, melainkan juga memiliki fungsi dalam berbgai bidang lain. itulah sebabnya mengapa psikologi, antropologi, etnologi, neurologi, dan filologi juga menjadikan bahasa sebagai salah satu objek kajiannya dari sudut atau segi yang berbeda-beda.
2.1.2 Asal-Usul Bahasa
Kalau bahasa itu ada, tentu ada asal-usul keberadaanya. Banyak teori telah dilontarkan para pakar mengenai asal-usul bahasa ini. Beberapa di antaranya dibicarakan di bawah ini.
F.B Condillac seorang filsuf bangsa Perancis berpendapat bahwa bahasa itu berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangitakan oleh perasaan atau emosi yang kuat. Kemudian teriakan-teriakan iu berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna, dan yang lama kelamaan semain panjang dan rumit. Sebelum adanya teori Condillac, orang ( terutama ahli agama) percaya bahwa bahasa itu berasal dari Tuhan. Tuhan telah melengkapi kehadiran pasngan manusia pertama (Adam dan Hawa) dengan kepandaian untuk berbahasa. Namun, teori condillac dan kepercayaan kaum agama ini ditolak oleh Von Herder, seorang ahli filsafat bangsa Jerman, yang mengatakan bahwa bahsa itu tidak mungkin datang dari Tuhan karena bahasa itu sedemikian buruknya dan tidak sesuai denga logika karena Tuhan Maha Sempurna. Menurut Von Hender bahasa itu terjadi dari proses onomatope, yaitu peniruan bunyi menjadi bahasa sebagai akibat dri dorongan hati yang sangat kuat untuk berkomunikasi.
Von Schlegel, seorang ahli filsafat bangsa Jerman, berpendapat bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber darisatu bahasa. Asal-usul bahasa itu sangat berlainan tergantung pada faktor-faktor yang mengatir tumbuhnya bahasa itu. Ada bahasa yang lahir dari onomatope, ada yang lahir dari kesadaran manusia, dan sebagainya. Namun, dari mana pun asalnya menurut Von Schlegelakan manusialah yang membuatnya sempurna.
Brooks (1975) memperkenalkan satu teori mengenai asal-usul bahasa yang sejalan dengan psikolinguistik dewasa ini. Menurut Brooks bahasa itu lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia. Berdasarkan penemuan-penemuan antropologi, arkeologi, biologi, dan sejarah purba, manusia, bahasa, dan kebudayaan secar bersamaan lahir dibagian tenggara Afrika kira-kira dua juta tahun yang lalu. Menurut hipotesis Brooks, bahasa mulanya berbentuk bunyi-bunyi tetap untuk menggantikan atau sebagai simbol bagi benda, hal atu kehjadian tetap di sekitar yang dekat dengan bunyi-bunyi itu. Kemudian bunyi-bunyi itu dipakai bersama oleh orang-orang di tempat itu. Sejak awal bahasa itu pastilah berupa satu kerangka atau struktur yang dibentuk oleh empat unsure yaitu bunyi, keteraturan, (order), bentuk, dan pilihan. Kemudian, karena kelahiran bahasa bersamaan dengan kelhiran kebudayaan, maka melalui kebudayaan ini segala hasil ciptaan kognisi seseorang dapat pula dimiliki oleh orang lain, dan dapat pula diturunkan ke generasi berikutnya.
Untuk menyokong hipotesisnya mengenai kelahiran bahasa ini, brooks merujuk penemuan-penemuan dan teori-teori dari Eric Lenneberg (1964-1967), Suzane Langer (1942), George Miller (1965), dan Roman Jakobson (1972). Umpamanya, teori keotonomian bahwa bahasa tidak terikat oleh waktu dan tempat, diterima oleh Brooks. Pendapat Suzanne Langer dan Eric Lenneberg bahwa bahsa juga tidak terikat dengan keperluan, juga diterima oleh Brooks. Selain itu, Brooks juga mengambil alih hipotesis nurani yang berasa dari R. Descarters (abad 17), yang diangkat kembali pada abad ke-20 oleh Noam Chomsky (1957, 1965, 1968). Hipotesis nuranu (the innateness hyphothesis) ini menyatakan bahwa manusia itu ketika lhir telah dilengkapi dengan kemampuan “nurani” yang memungkinkan manusia itu mempunyai kemampuan berbahasa. Dengan kata lain, manusia itu telah diciptakan menjadi makhluk berbahasa.
Sejalan dengan Brooks, Philip Lieberman (1975) juga menegemukakan satu teori mengenai asal-usul bahasa. Kalau Brooks merujuk pada hipotesis nurani yang berasal dari Descartes, maka Lieberman melangkah jauh ke belakang. Menurut Lieberman bahasa lahir secara evolusi sebagai yang dirumuskan oleh Darwin (1859) dengan teori evolusinya. Semua hokum evolusi Darwin, menurut Lieberman, telah berlaku dan dilalui juga oleh evolusi bahasa.
2.2 Bahasa dan Bicara (Reseptif dan Eksprosif)
Bahasa dibagi menjadi dua bagian yang disebut reseptif/ pemahaman dan ekspretif atau pengungkapan secara verbal. Bahasa reseptif (pemahaman), misalnya dengan menanyakan “mana hidung?” atau konsep dasar lainnya sesuai dengan usia anak. Kemampuan ekspretif (berkata), misalnya dengan menanyakan “ini apa?” dan anak menjawab pertanyaan sesuai dengan usia.
Pemahaman terhadap patokan-patokan perkembangan maupun tingkatan dari Bahasa dan Bicara akan sangat membantu Terapis Wicara dalam menganalisa kemampuan anak dari berbagai macam sisinya. Berikut ini adalah beberapa macam patokan-patokan dasar yang dapat dipakai untuk hal tersebut.
2.2.1 Perkembangan Bahasa dan Bicara
a. 0 – 6 Bulan
· mengulangi suara yang sama
· sering kali membuat suara “koo” dan “gurgles,” dan suara-suara yang menyenagkan;
· menggunakan tangisan yang berbeda-beda untuk mengutarakan kebutuhan yang berbeda-beda;
· tersenyum bila diajak berbicara;
· mengenali suara manusia;
· melokalisai suara dengan cara menolehkan kepala;
· mendengarkan pembicaraan;
· menggunakan konsonan /b/, /p/, dan /m/ ketika babbling.
· menggunakan suara atau isyarat (gestures) untuk memberi tahu keinginan.
b. 7 – 12 Bulan
· mengerti arti tidak dan panas;
· dapat memberi respons untuk permintaan yang sederhana;
· mengerti dan memberi respons pada namanya sendiri;
· mendengarkan dan meniru beberapa suara;
· mengenali kata untuk benda-benda sehari-hari (misalnya susu, sepatu, cangkir);
· “babbles” dengan menggunakan suara yang panjang dan pendek;
· menggunakan intonasi seperti lagu ketika “babbles”
· menggunakan berbagai macam-macam suara ketika “babbles”
· menirukan beberapa suara bicara orang dewasa dan intonasinya;
· menggunakan suara bicara selain tangisan untuk mendapatkan perhatian;
· mendengarkan bila diajak bicara;
· menggunakan suara yang mendekati suara yang ia dengar;
· mulai merubah “babbling” ke “jargon;”
· mulai menggunakan bicara dengan tujuan;
· hanya menggunakan kata benda;
· memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 1-3 kata.
· mengerti perintah sederhana.
c. 13 – 18 Bulan
· menggunakan intonasi yang mengikuti pola bicara orang dewasa
· menggunakan “echolalia” dan “jargon”,
· tidak mengucapkan beberapa konsonan depan dan hampir seluruh konsonan akhir;
· bicara hampir keseluruhan tidak dapat dimengerti;
· mengikuti perintah sederhana;
· mengenali 1-3 bagian dari tubuh;
· memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 3-20 kata atau lebih (kebanyakan kata benda);
· memadukan vokalisasi dan isyarat;
· membuat permintaan untuk hal-hal yang lebih diinginkan.
d. 19 – 24 Bulan
· lebih sering menggunakan kata dari pada “jargon”
· memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 50-100 kata atau lebih;
· memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 300 kata atau lebih;
· mulai memadu kata benda dan kata kerja;
· mulai menggunakan kata pengganti orang;
· kendali suara masih tidak stabil;
· menggunakan intonasi yang benar untuk pertanyaan;
· bicara 25-50% dapat dimengerti orang luar;
· menjawab pertanyaan “ini apa?,”
· senang mendengarkan cerita;
· mengenali 5 bagian dari tubuh;
· secara benar dapat menenamkan beberapa benda sehari-hari.
e. 2 – 3 Tahun
· bicara 50-75% dapat dimengerti;
· mengerti satu dan semua;
· mengucapan keinginan untuk ke kamar mandi (sebelum, sedang atau setelah kejadian);
· meminta benda dengan menamakannya;
· menunjuk kepada gambar didalam buku bila diminta;
· mengenali beberapa bagian dari tubuh;
· mengikuti perintah sederhana dan menjawab pertanyaan sederhana;
· senang mendengarkan cerita pendek, lagu dan sajak;
· menanyakan 1-2 kata pertanyaan;
· menggunakan 3-4 kata frase;
· menggunakan preposisi;
· menggunakan kata yang sama dalam konteks;
· menggunakan “echolalia” bila kesukaran berbicara;
· memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 50-250 kata (dan berkembang dengan pesat pada tahap ini);
· memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 500-900 kata atau lebih;
· mengerti hampir keseluruhan yang dikatakan kepadanya;
· sering mengulang, terutama kata permulaan “saya” (nama) dan suku kata pertama;
· berbicara dengan suara yang keras;
· nada suara mulai meninggi;
· menggunakan huruf hidup dengan baik;
· secara konsisten menggunakan konsonan awal (walaupun beberapa masih tidak dapat diucapkan dengan baik);
· sering menghilangkan konsonan tengah;
· sering menghilangkan atau mengganti konsonan akhir.
f. 3 – 4 Tahun
· Mengerti fungsi dengan benda;
· mengerti perbedaan dari arti kata (besar-kecil, diatas-didalam, berhenti-jalan);
· mengikuti perintah 2-3 bagian;
· menanya dan menjawab pertanyaan sederhana (siapa, apa, dimana, kenapa);
· sering menanya dan meminta jawaban yang terperinci;
· menggunakan analogi yang sederhana;
· menggunakan bahasa untuk mengekspresikan emosi;
· menggunakan 4-5 kata dalam kalimat;
· mengulang kalimat 6-13 suku kata secara benar;
· mengenali benda dengan nama;
· memanipulasi orang dewasa dan teman sebaya;
· kadang-kadang “acholalla” masih digunakan;
· lebih sering menggunakan kata benda dan kata kerja;
· sadar akan waktu yang telah lalu dan yang akan datang;
· memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata 800-1,500 kata atau lebih;
· memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 1,200-2,000 kata atau lebih;
· kadangkala mengulang nama, terbata-bata, kesulitan mengatur napas, dan meringis;
· berbisik;
· bicara 80% dapat dimengerti;
· walaupun masih banyak kesalahan, tatabahasa sudah banyak membaik;
· dapat menceritakan dua kejadian secara urut;
· dapat bercakap-cakap lebih lama.
g. 4 – 5 Tahun
· mengerti konsep jumlah sampai dengan 3;
· mengerti spatial konsep;
· mengenali 1-3 warna;
· memiliki pemahaman (reseptif) kosa kata 2,800 kata atau lebih;
· menghitung sampai 10 secara rote;
· mendengarkan cerita pendek;
· menjawab pertanyaan tentang fungsi;
· menggunakan tatabahasa dalam kalimat dengan benar;
· memiliki pengucapan (ekspretif) kosa kata 900-2,000 kata atau lebih;
· menggunakan kalimat dengan 4-8 kata;
· menjawab pertanyaan 2 bagian;
· menanyakan arti dari kata;
· senang akan sajak, ritme dan suku kata tidak berarti;
· menggunakan konsonan dengan 90% kecepatan;
· bicara biasanya dapat dimengerti oleh orang luar;
· dapat bercerita tentang pengalaman di sekolah, dirumah teman, dll.
· dapat menceritakan kembali cerita panjang;
· memperhatikan bila diceritakan dan menjawab pertanyaan sederhana tentang cerita tersebut.
h. 5 – 6 Tahun
· menamakan 6 warna dasar dan 3 bentuk dasar;
· mengikuti perintah yang diberikan dalam kelompok;
· mengikuti perintah 3-bagian;
· menanyakan pertanyaan bagaimana;
· menjawab secara verbal pertanyaan hai dan apa kabar?;
· menggunakan kata untuk sesuatu yang telah berlalu dan akan datang;
· menggunakan kata penghubung;
· memiliki pengucapan (ekspresif) kosa kata ± 13,000 kata;
· menamakan lawan kata;
· secara urut menamakan nama hari;
· menghitung sampai 30 secara mengurutkan (rote);
· kosa kata secara drastis meningkat terus;
· panjang kata dalam kalimat menurun hingga 4 - 6 kata dalam kalimat;
· terkadang membalikan suara-suara
i. 6 – 7 Tahun
· menamakan beberapa huruf, angka, dan mata uang;
· mengurutkan angka;
· mengerti kanan dan kiri;
· menggunakan makin banyak lagi kata-kata yang lebih kompleks untuk menjelaskan sesuatu;
· mengadakan percakapan;
· memiliki pemahaman kosa kata ± 20,000 kata;
· menggunakan panjang kalimat sampai dengan 6 kata;
· mengerti hampir keseluruhan konsep tentang waktu;
· dapat mengucapkan abjad;
· dapat menghitung sampai dengan 100 secara rote;
· menggunakan hampir seluruh aturan untuk perubahan kata dengan benar;
· menggunakan kalimat pasif dengan benar.
j. Perkembangan kosa kata
12 Bulan = Dua Kata selain “mama” dan “dada:
14 Bulan = Tiga kata di tambah “mama” dan “dada”
16 Bulan = Lima kata tidak termasuk “mama” dan “dada”
18 Bulan = Sepuluh Kata Vocabulary (Kosa Kata)
24 Bulan = Sedikitnya 300 kata dalam Kosa Kata Berbicara
30 Bulan = Kosa Kata berjumlah 450 kata
36 Bulan = Kosa Kata mendekati 1000 kata
42 Bulan = Kosa Kata berjumlah 1200 kata
48 Bulan = Kosa Kata berjumlah 1500 kata
54 Bulan = Kosa Kata berjumlah 1900 kata
60 Bulan = Kosa Kata berjumlah 2200 kata
2.2.1 Tahapan Bahasa (Level of Language)
Tahapan bahasa terbagi menjadi: Phonology (bahasa bunyi), Semantics (kata), Morphology (perubahan pada kata), Syntax (kalimat), Discourse (pemakaian bahasa dalam konteks yang lebih luas), Metalinguistics (bagaimana cara bekerjanya suatu bahasa) dan Pragmatics (bahasa dalam konteks sosial).
Selain memakai patokan-patokan diatas, bagi anak-anak yang sudah mulai berbicara, dapat dilakukan pengambilan sample dari percakapan yang sudah dapat dilakukan oleh anak (Clinical Language Oral Sampling). Prosedur ini kurang lebih dilakukan dengan merekan percakapan anak dan menuliskan hasilnya pada kertas sebelum menganalisa bentuk kalimat dan tatabahasa yang dipergunakan oleh anak.
Panjang kalimat rata-rata (Mean Length of Utterance – MLU) juga dapat ditentukan dari sample berbicara anak karena dapat memberikan informasi penting tentang perkembangan bahasanya, dan menjadi salah satu indikasi bila ada keterlambatan ataupun gangguan dalam berbicara.
2.3 Gangguan Bahasa dan Bicara
Menurut Van Riper, gangguan berbicara dapat disimpulkan sebagai berikut: Speech is defective when it calls unfavourable to it self, interferes with communication, or causes the speaker to be maladjusted; (conspicuous, unintelligible, and unpleasant), berbicara dikatakan terganggu bila berbicara itu sendiri membawa perhatian yang tidak menyenangkan pada si pembicara, komunikasi itu sendiri terganggu atau menyebabkan si pembicara menjadi kesulitan untuk menempatkan diri (terlihat aneh, tidak terdengar jelas, dan tidak menyenangkan).
Menurut Berry and Eisenson “devective speech (1) It is not easily audible, (2) it is not readily intelligible, (3) it is vocally unpleasant, (4) it contains specific sound errors, (5) it is labored, or lacks normal inflection or rhythm, (6) it is linguistically devicient, (7) it is inappropriate to the age, sex or physical development. of the speaker, and (8) it is visible unpleasant”. Gangguan pada berbicara: (1) Tidak mudah didengar, (2) Tidak langsung terdengar dengan jelas, (3) Secara vocal terdengar tidak enak, (4) Terdapat kesalahan pada bunyi-bunyi tertentu, (5) bicara itu sendiri sulit diucapkannya, kekurangan nada dan ritme yang normal, (6) Terdapat kekurangan dari sisi linguistik, (7) Tidak sesuai dengan umur, jenis kelamin, dan perkembangan fisik pembicara, dan (8) Terlihat tidak menyenangkan bila ia berbicara.
Salah satu kesulitan yang biasanya dialami anak dengan ASD adalah kesulitan berkomunikasi yang karakteristik luarnya dapat dilihat dari ciri-ciri diatas. Dengan demikian, mereka yang berhubungan dalam bidang ini (Terapis Wicara) akan bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau gangguan pada berbicara.
Pertama-tama yang akan dilakukan oleh seorang Terapis Wicara adalah yang disebut dengan evaluasi awal untuk bahasa dan bicara. Evaluasi ini dilakukan untuk mendapatkan profil dari bahasa dan bicara anak, melihat ditahap mana kemampuan bahasa dan bicara anak berada; apa jenis gangguan yang dialami oleh anak serta salah apa yang akan diberikan untuk mengatasi masalah yang terlihat.
Ada beberapa sisi-sisi pokok yang dipakai oleh Terapis Wicara untuk mendapatkan profil bahasa dan bicara anak tersebut. Semuanya berkaitan dengan kemampuan untuk bahasa dan berbicara serta sebagai prosedur standar Terapis Wicara, sisi-sisi ini dilihat dan dievaluasi sebagaimana mestinya.
2.3.1 Evaluasi Awal untuk Bahasa dan Bicara
Evaluasi yang efektif meliputi minimal patokan yang ada dibawah ini. Bagian ini juga akan mengikutsertakan gangguan-gangguan bahasa & bicara yang mungkin dialami di setiap sisi; dan garis besar dari terapinya:
Oral peripherai Mechanism Examiniation (Pemeriksaan Mekanisme Mulut dan Sekitarnya):
Pemeriksaan mekanisme mulut dan sekitarnya (Oral Peripheral/ oral facial) sangatlah penting karena termasuk bagian dari berbicara secara lengkap. Tujuannya agar dapat mengetahui bahwa faktor yang menyebabkan kelainan atau gangguan dalam berbicara tidak disebabkan oleh struktur dari alat berbicara tersebut. Patokan yang dipakai untuk pemeriksaan ini adalah bentuk (structure), Kekuatan (strenght), Pergerakan (movement).
Beberapa observasi sering terlihat pada pemeriksaan ini dan kemungkinan pentingnya hal tersebut dalam mendeteksi gangguan pada bicara antara lain:
1. Bentuk
· Warna yang tidak normal pada lidah, palatal atau pharynx. Antara lain warna ke abu-abuan biasanya dihubungkan dengan paralisis otot. Kebiruan mungkin disebabkan dari pendarahan dari dalam. Warna keputihan pada batas palatal kertas dan palatal lunak dapat menandakan adanya submucosal cleft. Warna terlewat gelap atau bening dapat pula menandakan adanya palatal fistula atau celah. Daerah yang hitam dapat menandakan adanya oral canser.
· Ketinggian atau kelebaran yang tidak normal pada palatal arch (lengkung palatal). Bentuk dari lengkung platal biasanya tidak sama dari satu orang ke orang yang lain. Tetapi lengkung palatal yang terlalu tinggi atau terlalu lebar akan menyebabkan kesulitan untuk pengucapan artikulasi yang membutuhkan kontrak antara palatal dan lingual. Lengkung palatal yang terlalu rendah atau lebar dengan keadaan lidah yang terlalu besar akan menyebabkan pengucapan, konsonan yang tidak jelas (distortion).
· Kesimetrisan pada wajah atau palatal. Biasanya berhubungan dengan adanya gangguan neurologi atau kelemahan pada otot.
· Deviasi dari lidah dan/ atau uvula ke kanan atau kekiri. Indikasi dari gangguan neurologi biasanya kearah sisi yang lebih lemah.
· Pembesaran dari tonsil. Kadang kala tidak ada efek apa-apa pada anak-anak. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, mengganggu kesehatan, resonansi, pendengaran bila menutup eustachian tube. Kadang menyebabkan lidah lebih banyak terjulur kedepan dan mempengaruhi artikulasi.
· Gigi yang hilang/ ompong Tergantung pada gigi yang hilang, artikulasi dapat terganggu. Biasanya pada anak-anak tidak secara serius mempengaruhi artikulasi.
2. Kekuatan
- Kelemahan pada tekanan Indra-oral. Kelemahan ini menandakan lemahnya tekanan udara pada pipi dan velopharyngeal. Biasanya ada udara yang keluar dari hidung atau mulut.
- Lingual frenum yang pendek. Dapat mengakibatkan gangguan pada artikulasi. Bila si anak tidak dapat mengadakan kontak antara lidah dengan alveolar ridge atau gigi untuk dapat mengucapkan suara-suara seperti t,d,n,l,c,j.
- Kelemahan atau tidak adanya gag reflex. Biasanya menandakan adanya kelemahan pada otot. Kemungkinan adanya gangguan neurologi, tidak selalu mengakibatkan gangguan berbicara.
- Kelemahan pada bibir, lidah dan atau rahang. Biasanya pada mereka yang mempunyai gangguan neurologi. Kemungkinan adanya aphasia atau dysarthria.
3. Pergerakan
· Secara informal, terapis dapat mengobservasi terhadap penggunaan organ bicara tersebut yang digunakan untuk hal lainnya seperti makan dan minum (pergerakan untuk mengisap, mengunyah, menelan dan lainnya).
· Secara formal dengan pengambilan Diadochokinetik Rate (evaluasi kemampuan untuk secara cepat melakukan gerakan bicara yang berganti-ganti): Misalnya: mengulang/papapapa/; /tatatata/; /kakakaka/ dan /patakapatakapataka/ dalam hitungan 1 (satu) menit.
2.3.2 Bantuan dan Terapi yang dapat diberikan
1. Untuk hal-hal yang bersifat struktural/fisik, disebut juga organik, Terapis Wicara akan merujuk kepada dokter yang bersangkutan.
2. Untuk hal-hal yang sifatnya fungsional, maka Terapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
Untuk permasalahan dengan pergerakan dan kekuatan dari organ mulut dan sekitarnya, tentu berhubungan dengan otot-otot dan syaraf. Kesulitan di bagian ini akan mengganggu artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena artikulasi/ pengucapan terjadi dengan menggunakan organ berbicara yang diatur sedemikian rupa menurut Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation).
2.3.3 Artikulasi atau Pengucapan
Artikulasi atau pembentukan vokal ialah udara yang berasal dari pernafasan melalui pita suara dan kaviti-kaviti yang ada dibentuk menjadi suara yang dipakai untuk berbicara dibantu oleh organ-organ bicara seperti bibir, lidah gigi dan sebagainya.
2.3.3.1 Artikulasi Vowel
Artikulasi Vowel (Huruf Hidup). Karakteristik dari Vowel adalah diucapkan dengan saluran suara yang terbuka (open vocal tract). Secara umum dapat dijelaskan dari posisi lidah, bibir dan pharynx.
2.3.3.2 Artikulasi Konsonan
Artikulasi Konsonan (Huruf Mati). Karakteristik dari konsonan adalah diucapkan dengan saluran suara yang lebih konstriksi. Ada konsonan yang diucapkan dengan saluran suara yang ditutup secara sesaat, yang lainnya diucapkan dengan penutupan saluran suara pada titik-titik tertentu.
· Klasifikasi Konsonan dari Cara dan Tempat Ucapan
| Cara Pengucapan | Tempat pengucapan Labial- Lingua- Lingua Dental Dental Alveolar Palatal Velar Bilabial Glottal | |||
| Stop | + p b | - + | - + | t d k g |
| Fricative | | f v | | s z h |
| Affricate | | | th th | o j |
| Nasai | m | | | |
| Gllde | w | | | ny |
| Lateral | | | | l |
- tanpa suara (unvoiced)
+ dengan suara (voiced)
v Stops atau Plosives
Pengucapan dengan Stop, Kaviti mulut pada titik tertentu ditutup. Penutupan ini membuat tekanan udara yang tiba-tiba dilepas dengan pembukaan.
v Fricatives
Pengucapan terjadi dengan arus udara yang kencang melalui konstruksi yang cukup untuk menimbulkan gesekan suara atau suara yang aperiodik.
v Affricates
Pengucapan yang terjadi dengan kombinasi antara plosives dan fricatives.
v Nasal
Suara yang diucapkan dengan tambahan Kaviti Hidung.
v Glides dan Lateral
Kadang disebut senuvowels, karena pengucapan yang serupa dengan vowels. Saluran suara dibuka pada pengucapan tetapi disebut konsonan karena dapat memulai atau dipasangkan dengan vowels.
Dalam mengevaluasi, Terapis Wicara akan mencoba mendapatkan suatu gambaran tentang kemampuan si anak dalam pengucapannya, bila memungkinkan Terapis Wicara akan mencoba mengobservasi suara apa yang terdengar atau mendapatkan keterangan dari Orang Tua tentang pengucapan apa yang dapat diucapkan oleh anak dan sisi artikulasi (repertone of sounds).
Data yang Terapis Wicara coba dapatkan adalah kemampuan anak dalam mengucapkan konsonan-konsonan dalam bahasa Indonesia yaitu /p,m,h,n,w,b,k,g,d,t,ng,y,r,l,s,c,j/ pada posisi: Awalan - Pertengahan - Akhiran. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tes gambar sederhana sesuai usia perkembangan. Contohnya:
| Huruf | Kata |
| | <2.0 – 3.0 tahun |
| P | pintu/ api/ asap |
| m | matahari/ tomat/ hitam |
| h | harimau/ pohon/ merah |
| n | nanas/ kuning/ balon |
| w | wortel/ awan |
| | <2.0 – 4.0 tahun |
| b | buku/ babi |
| | 2.0 – 4.0 tahun |
| k | kodok/ kaki/ sendok |
| g | gunting/ gigi |
| d | daun/ hidung |
| t | tangan/ mata/ semut |
| ng | bunga/ binatang |
| | 2.6 – 4.0 tahun |
| y | yoyo/ payung |
| | 3.0 – 6.0 tahun |
| r | rumah/ piring/ telur |
| l | lampu/ bola/ botol |
| | 3.0 – 8.0 tahun |
| s | sepatu/ pisang/ gelas |
| | 3.6 – 7.0 tahun |
| c | cincin/ kunci |
| | 4.0 – 7.0 tahun |
| i | jendela/ meja |
Ref. Templin, 1957 & Wellman et al., 1931
Berikut ini beberapa patokan usia dan Perkembangan konsonan-konsonan pada anak-anak. Antara lain yang diambil dari norma oleh:
1. Perkembangan Suara-suara dalam berbicara
Mildred Templin, “Certain Language Skills in Children,” Institute of Child Welfare Monograph 26, 1957.
| Umur | Konsonan |
| 3 | M,n,ng,p,f,h,w |
| 3,5 | V |
| 4 | k,b,d,g,r |
| 4,5 | s,sh,ch |
| 6,5 | t,n,l,th (tipis) |
| 7 | z,zh,th (tebal), y |
2. Jarak Umur dari Perkembangan Konsonan yang Normal
Templin, 1957;Wellman el al., 1981, (Dari E. Sander [1972] “When Are Speech Sounds Learned?” Journal of Speech and Hearning Disorders, 37, 56-63)
Tingkatan Umur
![]() | ||||||||||||
Perkiraan umur rata-rata dan batas umur teratas dari pengucapan konsonan yang biasanya terjadi. Garis abu-abu menandakan setiap bunyi/ konsonan mulai pada umur median dari artikulasi yang biasanya terjadi; dan berhenti pada angkatan umur dimana 90% dari semua anak biasanya sudah dapat mengucapkan bunyi/ konsonan tersebut.
Kesulitan/ keterlambatan yang terlihat dapat diinformasikan kembali kepada orang tua dengan memberi mereka informasi tentang perkembangan artikulasi yang normal. Kesulitan pada artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/t; orrission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apic, distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan).
Kesulitan lainnya yang mungkin dialami adalah dalam perencanaan gerak (motor planning – apraxia of speech).
3. Bantuan dan Terapi yang dapat diberikan:
a. Latihan dengan tahap:
· Isolasi (isolation): Latihan pengucapan konsonan itu sendiri tanpa huruf hidupnya (Konsonan tunggal);
· Suku Kata (CV Combination): Latihan pengucapan konsonan dengan kombinasi Konsonan Vocal: KV;
· VCV; VK (Posisi: Awal-Pertengahan-Akhir). Aktifitas yang dapat diberikan antara lain dengan menirukan atau Menggunakan kartu suku kata;
· Kata: Latihan pengucapan konsonan untuk tingkat kata (Posisi: Awal-Pertengahan-Akhir). Aktifitas yang dapat diberikan antara lain dengan menamakan benda atau gambar sesuai dengan konsonan yang mengalami kesulitan. Misalnya: /r/ awal:rumah,rambut,robot,roti, dan lainnya;
· Kalimat: Latihan menggunakan konsonan yang mengalami kesulitan dalam kalimat atau bacaan (bila anak sudah dapat membaca). Misalnya: konsonan /r/: ruri memberi ira sebutir beras.
· Tentunya untuk latihan pemakaian secara fungsional atau sehari-hari dalam berbicara (carry over).
b. Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular Facilitation, Articulatory Diagrams, Reauditorization dan lain-lain.
2.4 Mengajarkan Pemahaman dan Tata Bahasa Sesuai Umur
Bagi anak yang dapat di mainstream ke sekolah biasa, kesulitan dalam sisi bahasa dan bicara biasanya meningkat kapada tingkatan bahasa yang lebih tinggi, yakni ketika anak mulai memasuki dunia akademis, pemakaian bahasa iti sendiri menjadi lebih kompleks. bahasa dan bicara antara lain mencangkup pemahaman; penggunaan tata bahasa yang benar; dapat memahami dan menceritakan kembali apa yang dialaminya; dan tentunya memakai bahasa dan bicara secara sosial.
Segala kemampuan yang telah diajarkan haruslah digeneralisasikan keorang lain dan situasi lainnya. Kemampuan ini pula haruslah dapat dipakai oleh anak secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
Penyebab kelainan berbicara dan bahasa bisa bermacam-macam
yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis, dan lain sebagainya.
yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara lain kondisi lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis, dan lain sebagainya.
Gangguan bicara dan bahasa pada anak dapat disebabkan oleh kelainan berikut:
1. Lingkungan sosial dan emosional anak.
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak, termasuk lingkungan keluarga. Misalnya, gagap dapat disebabkan oleh kekhawatiran dan perhatian orang tua yang berlebihan pada saat anak mulai belajar bicara, tekanan emosi pada usia yang sangat muda sekali, dan dapat juga sebagai suatu respon terhadap konflik dan rasa takut. Sebaliknya, gagap juga dapat menimbulkan problem emosional pada anak.
2. Sistem masukan / input
Gangguan pada sistem pendengaran, penglihatan, dan defisit taktilkinestetik
dapat menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak. Dalam perkembangan bicara, pendengaran merupakan alat yang sangat penting. Anak seharusnya sudah dapat mengenali bunyi-bunyian sebelum belajar bicara. Anak dengan otitis media kronis dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan kemampuan menerima atau mengungkapkan bahasa. Gangguan bahasa juga terdapat pada tuli karena kelainan genetik dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intrauterin : TORCH), tuli konduksi seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik (terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
dapat menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak. Dalam perkembangan bicara, pendengaran merupakan alat yang sangat penting. Anak seharusnya sudah dapat mengenali bunyi-bunyian sebelum belajar bicara. Anak dengan otitis media kronis dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan kemampuan menerima atau mengungkapkan bahasa. Gangguan bahasa juga terdapat pada tuli karena kelainan genetik dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intrauterin : TORCH), tuli konduksi seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik (terjadi kegagalan integrasi arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Anak dengan gangguan penglihatan yang berat, akan terganggu pola bahasanya. Pada anak dengan defisit taktilkinestetik akan terjadi gangguan artikulasi, misalnya pada anak dengan anomali alat bicara perifer, seperti pada labioskizis, palatoskizis dan kelainan bentuk rahang, bisa didapati gangguan bicara berupa disartria.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan pada susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, interpretasi, formulasi, dan perencanaan bahasa, juga aktivitas dan kemampuan intelektual dari anak. Dalam hal ini, terdapat defisit kemampuan otak untuk memproses informasi yang komplek secara cepat. Kerusakan area Wernicke pada hemisfer dominan girus temporalis superior seseorang akan menyebabkan hilangnya seluruh fungsi intelektual yang berhubungan dengan bahasa atau simbol verbal, yang disebut dengan afasia Wernicke. Penderita mampu mengerti kata-kata yang dituliskan atau didengar, namun tak mampu menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan. Apabila lesi pada area Wernicke ini meluas dan menyebar ke belakang (regio girus angular), keinferior (area bawah lobus temporalis), dan ke superior (tepi superior fisura sylvian), maka penderita tampak seperti benar-benar terbelakang total untuk mengerti bahasa dan berkomunikasi, disebut dengan afasia global. Bila lesi tidak begitu parah, maka penderita masih mampu memformulasikan pikirannya namun tidak mampu menyusun katakata
yang sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya.
yang sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya.
Kerusakan pada area bicara broca yang terletak di regio prefrontal dan fasial premotorik korteks menyebabkan penderita mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya dan mampu bervokalisasi namun tak mampu mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata selain suara ribut. Kelainan ini disebut afasia motorik, kira-kira 95% kelainannya di hemisfer kiri.
Regio fasial dan laringeal korteks motorik berfungsi mengaktifkan gerakan otototot
mulut, lidah, laring, pita suara, dan sebagainya, yang bertanggung jawab untuk intonasi, waktu, dan perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara. Kerusakan pada regioregio
ini menyebabkan ketidakmampuan untuk berbicara dengan jelas. Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada sindrom down. Pada anak dengan retardasi mental, terdapat disfungsi otak akibat adanya ketidaknormalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter atau mielinisasi, sehingga perkembangan mentalnya terhenti atau tidak lengkap, sehingga berpengaruh pada semua kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
mulut, lidah, laring, pita suara, dan sebagainya, yang bertanggung jawab untuk intonasi, waktu, dan perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara. Kerusakan pada regioregio
ini menyebabkan ketidakmampuan untuk berbicara dengan jelas. Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada sindrom down. Pada anak dengan retardasi mental, terdapat disfungsi otak akibat adanya ketidaknormalan yang luas dari struktur otak, neurotransmitter atau mielinisasi, sehingga perkembangan mentalnya terhenti atau tidak lengkap, sehingga berpengaruh pada semua kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial.
4. Sistem produksi
Sistem produksi suara meliputi laring, faring, hidung, struktur mulut dan mekanisme
neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi laring, pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring, faring dan rongga mulut.
neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi laring, pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring, faring dan rongga mulut.
2.5 Sekilas Mengenai Down Syndrome
2.5.1 Pengertian
Kelainan bawaan sejak lahir yang terjadi pada 1 diantara 700 bayi. Mongolisma (Down’s Syndrome) ditandai oleh kelainan jiwa atau cacat mental mulai dari yang sedang sampai berat. Tetapi hampir semua anak yang menderita kelainan ini dapat belajar membaca dan merawat dirinya sendiri.
Sindrom Down adalah suatu kumpulan gejala akibat dari abnormalitas kromosom, biasanya kromosom 21 yang tidak berhasil memisahkan diri selama meiosis sehingga terjadi individu dengan 47 kromosom. Sindrom ini pertama kali diuraikan oleh Langdon Down pada tahun 1866.
Down Syndrom merupakan kelainan kromosom autosomal yang paling banyak terjadi pada manusia. Diperkirakan 20% anak dengan down syndrom dilahirkan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun. Synrom down merupakan cacat bawaan yang disebabkan oleh adanya kelebiha kromosom x. Syndrom ini juga disebut Trisomy 21, karena 3 dari 21 kromosom menggantikan yang normal. 95 % kasus syndrom down disebabkan oleh kelebihan kromosom.
2.5.2 Etiologi
Penyebab dari Syndrom Down adalah adanya kelainan kromosom yaitu terletak pada kromosom 21 dan 15, dengan kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut.
1. Non Disjunction sewaktu osteogenesis (Trisomi)
2. Translokasi kromosom 21 dan 15
3. Postzygotic non disjunction (Mosaicism)
Faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya kelainan kromosom (Kejadian Non Disjunctional ) adalah
1. Genetik
Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan syndrom down.
2. Radiasi
Ada sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30 % ibu yang melahirkan ank dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi konsepsi.
3. Infeksi Dan Kelainan Kehamilan
4. Autoimun dan Kelainan Endokrin Pada ibu (terutama autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid)
5. Umur Ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
6. Umur Ayah
Selain itu ada faktor lain seperti gangguan intragametik, organisasi nukleolus, bahan kimia dan frekuensi koitus.
2.5.3 Gejala Klinis
Berat badan waktu lahir dari bayi dengan syndrom down umumnya kurang dari normal. Beberapa bentuk kelainan pada anak dengan Syndrom Down ialah
1. Sutura Sagitalis Yang Terpisah
2. Fisura Palpebralis Yang Miring
3. Jarak Yang Lebar Antara Kaki
4. Fontarela Palsu
5. “Plantar Crease” Jari Kaki I dan II
6. Hyperfleksibilitas
7. Peningkatan Jaringan Sekitar Leher
8. Bentuk Palatum Yang Abnormal
9. Hidung Hipoplastik
10. Kelemahan Otot Dan Hipotonia
11. Bercak Brushfield Pada Mata
12. Mulut Terbuka Dan Lidah Terjulur
13. Lekukan Epikantus (Lekukan Kulit Yang Berbentuk Bundar) Pada Sudut Mata Sebelah Dalam
14. Single Palmar Crease Pada Tangan Kiri Dan Kanan
15. Jarak Pupil Yang Lebar
16. Oksiput Yang Datar
17. Tangan Dan Kaki Yang Pendek Serta Lebar
18. Bentuk / Struktur Telinga Yang Abnormal
19. Kelainan Mata, Tangan, Kaki, Mulut, Sindaktili
20. Mata Sipit
2.5.4 Gejala-Gejala Lainnya
1. Anak-anak yang menderita kelainan ini umumnya lebih pendek dari anak yang umurnya sebaya.
2. Kepandaiannya lebih rendah dari normal.
3. Lebar tengkorak kepala pendek, mata sipit dan turun, dagu kecil yang mana lidah kelihatan menonjol keluar dan tangan lebar dengan jari-jari pendek.
4. Pada beberapa orang, mempunyai kelaianan jantung bawaan.
2.5.5 Komplikasi
1. Penyakit Alzheimer’s (penyakit kemunduran susunan syaraf pusat)
2. Leukimia (penyakit dimana sel darah putih melipat ganda tanpa terkendalikan).
2.5.6 Penyebab
1. Pada kebanyakan kasus karena kelebihan kromosom (47 kromosom, normal 46, dan kadang-kadang kelebihan kromosom tersebut berada ditempat yang tidak normal)
2. Ibu hamil setelah lewat umur (lebih dari 40 th) kemungkinan melahirkan bayi dengan Down syndrome.
3. Infeksi virus atau keadaan yang mempengaruhi susteim daya tahan tubuh selama ibu hamil.
2.5.7 Patofisiologi
Penyebab yang spesifik belum diketahiui, tapi kehamilan oleh ibu yang berusia diatas 35 tahun beresiko tinggi memiliki anak syndrom down. Karena diperjirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non-disjunction” pada kromosom yaitu terjadi translokasi kromosom 21 dan 15. Hal ini dapat mempengaruhi pada proses menua.
2.5.8 Prognosis
44% syndrom down hidup sampai 60 tahun dan hanya 14% hidup sampai 68 tahun. Tingginya angka kejadian penyakit jantung bawaan pada penderita ini yang mengakibatkan 80% kematian. Meningkatnya resiko terkena leukimia pada syndrom down adalah 15 kali dari populasi normal. Penyakit Alzheimer yang lebih dini akan menurunkan harapan hidup setelah umur 44 tahun.
Anak syndrom down akan mengalami beberapa hal berikut :
1. Gangguan tiroid
2. Gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang dan otitis serosa
3. Gangguan penglihatan karena adanya perubahan pada lensa dan kornea
4. Usia 30 tahun menderita demensia (hilang ingatan, penurunan kecerdasan danperubahan kepribadian)
2.5.9 Pencegahan
1. Konseling Genetik maupun amniosentesis pada kehamilan yang dicurigai akan sangat membantu mengurangi angka kejadian Sindrom Down.
2. Dengan Biologi Molekuler, misalnya dengan “ gene targeting “ atau yang dikenal juga sebagai “ homologous recombination “ sebuah gen dapat dinonaktifkan.
2.5.10 Diagnosis
Pada pemeriksaan radiologi didapatkan “brachyaphalic” sutura dan frontale yang terlambat menutup. Tulang ileum dan sayapnya melebar disertai sudut asetabular yang lebar. Pemeriksaan kariotiping untuk mencari adanya translokasi kromosom. Diagnosis antenatal dengan pemeriksaan cairan amnion atau vili karionik, dapat dilakukan secepatnya pada kehamilan 3 bulan atau pada ibu yang sebelumnya pernah melahirkan anak dengan syndrom down. Bila didapatkan janin yang dikandung menderita sydrom down dapat ditawarkan terminasi kehamilan kepada orang tua.
Pada anak dengan Syndrom Down mempunyai jumlah kromosom 21 yang berlebih (3 kromosom) di dalam tubuhnya yang kemudian disebut trisomi 21. Adanya kelebihan kromosom menyebabkan perubahan dalam proses normal yang mengatur embriogenesis. Materi genetik yang berlebih tersebut terletak pada bagian lengan bawah dari kromosom 21 dan interaksinya dengan fungsi gen lainnya menghasilkan suatu perubahan homeostasis yang memungkinkan terjadinya penyimpangan perkembangan fisik ( kelainan tulang ), SSP ( penglihatan, pendengaran ) dan kecerdasan yang terbatas.
2.5.11 Penatalaksanan
1. Penanganan Secara Medis
a. Pendengarannya : sekitar 70-80 % anak syndrom down terdapat gangguan pendengaran dilakukan tes pendengaran oleh THT sejak dini.
b. Penyakit jantung bawaan
c. Penglihatan : perlu evaluasi sejak dini.
d. Nutrisi : akan terjadi gangguan pertumbuhan pada masa bayi / prasekolah.
e. Kelainan tulang : dislokasi patela, subluksasio pangkal paha / ketidakstabilan atlantoaksial. Bila keadaan terakhir ini sampai menimbulkan medula spinalis atau bila anak memegang kepalanya dalam posisi seperti tortikolit, maka perlu pemeriksaan radiologis untuk memeriksa spina servikalis dan diperlukan konsultasi neurolugis.
2. Pendidikan
a. Intervensi Dini
Program ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkungan yang memeadai bagi anak dengan syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak mampu mandiri sperti berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi,yang akan memberi anak kesempatan.
b. Taman Bermain
Misal dengan peningkatan ketrampilan motorik kasar dan halus melalui bermain dengan temannya, karena anak dapat melakukan interaksi sosial dengan temannya.
c. Pendidikan Khusus (SLB-C)
Anak akan mendapat perasaan tentang identitas personal, harga diri dan kesenangan. Selain itu mengasah perkembangan fisik, akademis dan dan kemampuan sosial, bekerja dengan baik dan menjali hubungan baik.
3. Penyuluhan Pada Orang Tua
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil pelaksanaan penelitian dan pembahasannya. Pengambilan data pada penelitian ini dilaksanakan pada Mila, anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan bicara, membaca dan menulis di kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja. Uraian dibagi menjadi dua, yaitu (1) hasil penelitian (deskripsi data hasil observasi, deskripsi data hasil wawancara dan dekripsi hasil data dokumentasi), dan (2) pembahasan terhadap hasil penelitian.
3.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh adalah berupa data hasil observasi, data hasil wawancara dan data hasil dokumentasi. Wawancara dan dokumentasi diperlukan untuk melengkapi data hasil observasi, sekaligus sebagai bahan untuk mengecek kembali hal-hal yang belum jelas dalam data yang diperoleh dari hasil observasi.
Nama Sekolah : SLB Negeri C Singaraja
Alamat : Jalan Yudistira Singaraja
A. KETERANGAN SISWA
1. Nama siswa
a. Lengkap : Putu Mila Saputri
b. Panggilan : Mila
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Kelahiran
a. Tanggal : 16 Oktober 2000
b. Tempat : Singaraja
4. Kewarganegaraan : WNI
5. Jumlah Saudara Kandung : 2
6. Bahasa sehari-hari dikeluarga : Bahasa Indonesia
a. Berat badan : 24 kg
b. Tinggi badan : 110 cm
7. Alamat : Jalan Pulau Irian, Desa Penglatan, Singaraja
8. No. Telp. : 08155193299
9. Diterima tanggal : 14 Juli 2008
B. KELAINAN ANAK
Jenis/ Tingkat Kecacatannya : Mongoloid/ Debil skor 58
C. KETERANGAN ORANG TUA/ WALI SISWA
1. Nama Ibu : Luh Tirta Yasih
2. Pendidikan Terakhir : SMA
3. Pekerjaan : Buruh
3.1.1 Deskripsi Data Hasil Observasi
Deskripsi data pelaksanaan pembelajaran diperoleh dari hasil observasi (pengamatan) langsung peneliti pada Mila, anak dengan keterlambatan atau gangguan bicara, menyimak, membaca, dan menulis di kelas IV SDLB SLB Negeri C Singaraja dan Ibu Kadek Astuti selaku guru kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja. Dalam deskripsi ini, data digambarkan secara objektif berdasarkan kejadian yang sebenarnya terjadi dalam kelas, sehingga diperoleh data sebagai berikut ini.
1. Kemampuan Mila dalam Menyimak Pelajaran

Berdasarkan pengamatan langsung peneliti, dalam hal menyimak pelajaran, Mila kurang apresiatif. Terlihat ketika guru memberikan stimulus-stimulus dan memberikan pertanyaan kepada Mila, ia serasa acuh dan terlihat mengantuk/ bosan. Misalnya, ketika guru memperagakan rotasi gigi motor dengan bantuan tangan, Mila kurang mampu menirukannya sementara guru terus memberi ia petunjuk. Namun, daya simak yang dimiliki Mila ternyata belum mampu merangsang aktivitas pikirannya, sehingga ia kurang terampil dari temannya yang lain.(lampiran dalam video rekaman)
Disisi lain, guru secara terus menerus bertanya kepada Mila dan akhirnya ia dapat memberikan sedikit perhatiannya kepada pelajaran. Misalnya, pada saat guru menjelaskan mengenai kehidupan hutan yang digambarkan oleh guru dipapan tulis, Mila memberikan perhatiannya. Gurupun bertanya, “Anak-anak, apa yang ada di hutan?”, coba kamu Mila! Mila pun menjawab, “buaya (dalam bahasa Bali)”. “Apa lagi?”, tanya guru. Mila tampak kebingungan dan akhirnya menjawab, “gajah” (dengan pengucapan yang kurang jelas).
Berdasar hal tersebut, terlihat bahwa dengan cara memberikan perhatian lebih kepada anak dengan keterlambatan bicara dan menanyakan hal yang sama secara terus menerus akan dapat menarik perhatiannya terhadap suatu hal dan akhirnya dapat memberikan suatu respon. Jika hal tersebut terus dan selalu dilakukan, maka anak dengan keterlambatan atau gangguan bicara akan mengalami suatu perkembangan yang lebih baik.
2. Kemampuan Mila dalam Membaca

Jika dilihat dari kemampuan membaca yang dimiliki Mila, ia kurang lancar dalam membaca. Untuk anak seumur Mila, yakni 11 tahun, seharusnya ia sudah dapat membaca dengan lancar dan mengenal berbagai jenis kata yang umum digunakan. Berdasarkan pengamatan, ketika Mila diminta untuk membaca sebuah cerita, ia pun dengan sigap mengapresiasi permintaan tersebut dan ia mulai membaca. Namun, ternyata ia hanya bisa menyambung huruf konsonan dengan huruf vocal dan membacanya. Ia belum bisa membaca huruf-huruf tersebut sampai terbaca menjadi sebuah kata.(lampiran dalam video rekaman)
Kaitan dalam hal ini, yakni Mila perlu latihan secara intensif dan masukan dari gurunya sehingga ia nantinya benar-benar bisa membaca dan merangkai kata menjadi sebuah bacaan. Walaupun Mila merupakan anak yang mongoloid, ia bisa saja tumbuh dan berkembang seperti anak normal pada umumnya, jika dilakukan latihan yang secara terus-menerus dan penanganan yang tepat.
3. Kemampuan Mila dalam Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang alami dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pendidikan. Umumnya, anak usia 7 tahun yang notabenenya baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar sudah dikenalkan dengan abjad dalam bahasa Indonesia dan sudah belajar merangkai abjad tersebut menjadi kata-kata. Ketika duduk dibangku kelas 4 SD, seharusnya anak sudah lancar dalam menulis. Namun, tidak sama halnya dengan apa yang dialami Mila. Walaupun usianya sudah menginjak 11 tahun, ia masih kurang dalam hal menulis. Mila harus mengeja huruf demi huruf untuk menuliskan sebuah kata.Ketika diminta untuk menuliskan namanya, ternyata ia lancar menulisnya. (terlampir dalam rekaman video). Namun, ketika mencatat hal-hal yang dituliskan gurunya dipapan tulis, ia nampak kebingungan.
4. Kemampuan Mila dalam Bebicara
Berbicara merupakan kemampuan yang alami dimiliki orang sejak kecil. Jika anak dilatih berbicara sejak dini dengan baik, maka ia akan lancar dalam berbicaranya. Namun, jika sang anak mengalami kelainan yang dialaminya sejak kecil, maka kemungkinan kemampuan berbicaranya kurang. Gangguan bicara merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak - anak. Diperkirakan sekitar 4 -5% anak - anak menderita gangguan bicara dan bahasa. Deteksi dini perlu ditegakkan agar penyebabnya dapat segera dicari, sehingga pengobatan serta pemulihannya dapat dilakukan seawal mungkin. Sejatinya, orang tualah yang harus peka terhadap berbagai kelainan pada perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak.Hal serupa terlihat pada kemampuan berbicara yang dimiliki oleh Mila. Ia lancar berbicara, namun intonasinya kurang jelas. Mila kerap kali menggunakan bahasa ibu (bahasa Bali) dalam bercakap, tetapi terkadang juga menggunakan bahasa Indonesia. Perlu adanya penafsiran lebih dalam jika ingin berkomunikasi dengan Mila supaya dapat diketahui apa yang hendak dikatakannya. Hal tersebut dikarenakan ketidakjelasan ucapan yang dikeluarkan.
5. Kemampuan Mila dalam Berkesenian/ Berkreasi
Kemampuan berkesenian/ berkreasi merupakan sesuatu yang dimiliki oleh setiap manusia secara alami, tergantung cara seseorang menyikapi nilai seni suatu hal. Berdasarkan kaitannya, Mila dalam menyikapi pelajaran kesenian di kelasnya tampak cukup terampil. Ketika guru meminta siswa untuk mengumpulkan warna-warna kertas jagung yang sama dalam sebuah kertas lingkaran, kemudian mengelemnya, Mila dapat dengan sigap melaksanakan perintah guru tersebut. Walaupun kurang rapi, namun ia telah dapat memasangkan warna yang sama dalam satu bagian. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia lebih tertarik kepada sesuatu yang berbau kreasi atau praktek atau dapat dikatakan bahwa ia lebih menyenangi pelajaran yang berisi praktek daripada berteori.Berarti dapat dikatakan pula, bahwa gerak tubuh Mila lebih dapat merespon hal yang dihadapinya dibandingkan dengan kerja otaknya yang agak lambat menerima rangsangan. Akibatnya, ia pun kesulitan dalam berkomunikasi atau menggunakan bahasanya.
3.1.2 Deskripsi Hasil Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengecek hal-hal yang dianggap masih belum jelas dalam tidakan observasi. Di samping untuk keperluan tersebut, wawancara juga dilaksanakan untuk memperjelas serta melengkapi data yang diharapkan. Deskripsi hasil wawancara ini menggambarkan jawaban dari guru beserta orang tua Mila dalam upaya-upayanya menangani kelainan yang dialami Mila, yakni siswa kelas IV SDLB tempat peneliti mengambil data penelitian. Deskrpsi hasil wawancara ini membahas tentang beberapa hal, antara lain sebagai berikut : (1) metode yang digunakan guru dalam memberikan materi pelajaran kepada anak yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara (Mila) di SDLB SLB Negeri C Singaraja, (2) alasan guru menggunakan metode tersebut dalam menangani Mila yang memiliki keterlambatan bicara, baik dari aspek menyimak, membaca, menulis, ataupun berbicaranya, (3) sejarah atau gejala awal kelainan yang dialami Mila, (4) upaya orang tua dalam menangani keterlambatan atau gangguan bicara yang dialami oleh Mila. Berikut ini akan dijabarkan secara satu per satu mengenai hal-hal diperoleh saat melakukan wawancara.
3.1.2.1 Metode yang Digunakan Guru dalam Menangani Anak dengan Keterlambatan Bicaranya

Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada Ibu Kadek Astuti selaku guru kelas yang mengajar di kelas IV SDLB SLB Negeri C Singaraja, dapat diketahui bahwa beliau telah menangani anak dengan keterlambatan atau gangguan bicara sejak tahun 1991 yang semula menjadi guru honor di SLB C Lumintang. Berdasarkan pengalaman yang telah bertahun-tahun menjadi guru di SLB, beliau memiliki kiat-kiat atau metode dalam menangani anak dengan keterlambatan bicara seperti yang dialami Mila. Upaya yang dilakukan, yakni dengan menggunakan bahasa yang sederhana dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga anak dapat menangkap apa yang kita sampaikan. Keterbatasan ingatan pada otak anak, khususnya Mila merupakan salah satu faktor penghambat daya serap otaknya sehingga perlu secara perlahan dalam menanganinya. Disisi lain juga, anak seperti Mila tidak bisa diberi beban pikiran yang berlebih, karena dapat menghambat sistem perkembangan otaknya yang dapat juga berpengaruh pada keinginannya untuk belajar. Jika ia merasa guru terlalu cepat mengajar atau bahasanya terlalu sulit diserap, maka ia akan acuh kepada pelajaran. Namun, sebaliknya jika guru mangajar dengan bahasa yang santai dan sederhana, maka ia akan dapat dengan antusias memerhatikan gurunya.
Selain itu juga dapat digunakan bahasa yang singkat dan padat, kemudian dilihat perkembangan anak. Jika sang anak dirasa belum mengerti, maka digunakanlah bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pembelajaran sampai anak benar-benar mengerti dengan apa yang dimaksud. Setelah itu, dilanjutkan kembali penyampaian materi dengan bahasa Indonesia atau dengan memasukan bahasa Indonesia sedikit demi sedikit.
3.1.2.2 Alasan Guru Menggunakan Metode yang Dipilih
Alasan guru menggunakan cara atau metode dengan pendekatan bahasa ibu ialah agar sang anak mudah memahami apa yang ingin kita sampaikan kepadanya. Menurut ibu Kadek Astuti, melalui metode tersebut, sang anak telah dapat menunjukkan perkembangannya dan memahami materi yang diajarkan. Hal terpenting yang tidak bisa dilupakan adalah kesabaran. Melalui penyampaian materi dengan bahasa ibu yang kemudian disisipkan secara perlahan bahasa Indonesia, sang anak menunjukkan ketertarikannya terhadap guru dan apa yang diajarkan. Oleh karena itu, metode tersebut terbukti ampuh dalam mendekati anak dengan keterlambatan bicaranya.
Anak yang mengalami keterlambatan bicara, menyimak, menulis, maupun membaca seperti yang dialami Mila tersebut tidak bisa dipaksakan untuk cepat mengerti dengan apa yang disampaikan guru. Hal itu dikarenakan, anak memiliki kemampuan yang rendah atau sederhana sehingga dipilihlah metode dengan menggunakan bahasa yang fleksibel atau sederhana pula. Jadi, sang anak akan dapat memahami dan mengembangkan materi pelajaran yang disampaikan guru.
3.1.2.3 Sejarah atau Gejala Awal Kelainan yang Dialami Mila

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Luh Tirta Yasih, yakni ibu dari Mila, dikatakan bahwa ketika masih mengandung, ia pernah memeriksakan kandungannya kepada dokter dan dikatakan bahwa kandungannya baik-baik saja. Namun, pada saat kelahirannya, dokter memfonis bahwa Mila mengalami down sindrome dan kakinya serasa tidak memiliki tulang. Ibu Luh mengatakan pula, pada saat hamil, ia pernah jatuh lima kali dan ia merasa bahwa hal tersebutlah yang mengakibatkan kelainan pada Mila.
Dokter pun menyangkalnya dan dikatakan bahwa awal dari gejala kelainan tersebut adalah ketika proses pembuahan yang telah dimasuki bakteri sehingga pembuahan tidak berlangsung sempurna. Akibatnya, Mila baru bisa berjalan setelah 2 tahun lebih lambat dibandingkan anak normal lainnya yang sudah bisa berjalan setelah 1 tahun. Mila sejatinya bisa melakukan aktivitas seperti anak normal pada umumnya, namun ia hanya terganjal dalam hal berbicara. Berdasar kondisi yang demikian, Mila tidaklah bisa diberi beban pikiran yang berlebih, karena otaknya kurang kuat untuk menyerap berbagai kondisi disekitarnya. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan dan perhatian lebih dari orang tua sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang lebih baik lagi.
3.1.2.4 Upaya orang tua dalam menangani keterlambatan atau gangguan bicara yang dialami oleh Mila
Upaya yang pernah dilakukan orang tua Mila ialah membawanya kedokter. Namun, dokter berkata lain, ia tidak mampu mengobati keadaan Mila tersebut. Akhirnya, Mila diajak untuk pengobatan pijat refleksi supaya ia tidak cacat total. Hal itu rutin dilakukan sampai keadaan Mila menunjukkan suatu perubahan. Pengakuan lain dari ibu Luh, yakni Mila juga sempat diajak ke dukun dan nyatanya Mila telah dapat menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Upaya-upaya tersebut secara rutin dilakukan, sehingga Mila sedikit-demi sedikit dapat beraktivitas layaknya anak normal lain. Kini, Mila pun dapat bergerak, beraktivitas dan berinteraksi dengan anak-anak lain, walaupun ia masih terganjal dengan keterlambatan bicaranya.
3.1.3 Deskripsi Hasil Dokumentasi
Dokumentasi pada penelitian dilakukan untuk mengecek serta hal-hal yang dianggap masih belum jelas dalam tindakan observasi dan wawancara. Deskripsi hasil dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti ini, merupakan jawaban yang lebih terinci dari upaya-upaya yang dilakukan guru beserta orang tua dalam menangani keterlambatan bicara yang dialami oleh Mila, siswa kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja. Deskripsi hasil dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti membahas tentang langkah-langkah yang sistematis dari upaya guru dalam memberikan materi pelajaran kepada Mila yang memiliki keterlambatan bicara, menyimak, membaca, dan menulis sehingga ia dapat benar-benar paham tentang materi yang disajikan guru yang akan dipaparkan langkah-langkahnya sebagai berikut.
3.1.3.1 Langkah-langkah Penanganan Terhadap Keterlambatan Bicara pada Mila di Kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja.
Berdasarkan hasil dokumentasi yang dilakukan peneliti ketika kegiatan pembelajaran berlangsung pada Mila, anak kelas IV SDLB di SLB Negeri C Singaraja, langkah-langkah pembelajarannya akan tampak sebagai berikut.
1. Guru menyampaikan tema pembelajaran pada hari tersebut dan menanyakan kabar dari siswanya.
2. Guru duduk bersama siswa dan berinteraksi secara lebih dekat lagi.
3.
Dalam suasana keakraban, guru mulai menjelaskan materi pelajaran mengenai kehidupan di hutan.
Dalam suasana keakraban, guru mulai menjelaskan materi pelajaran mengenai kehidupan di hutan.4. Setiap siswa diminta untuk menyebutkan hal-hal apa saja yang ada di hutan.
5. Guru menunjuk Mila untuk menyebutkan hal apa yang ada di hutan dan menggambarkan suasana hutan.
6. Guru menampung semua jawaban dari siswa dan mulai menggambarkan suasana hutan dipapan tulis.
7. Guru kembali bertanya kepada siswa, khususnya Mila mengenai hal apa saja yang berkaitan atau ada di hutan sebelum menggambarnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengecek kembali pemahaman siswa.

8. Guru meminta siswa menuliskan hal-hal yang ada di hutan di buku catatan yang mereka bawa.
9. Guru kembali duduk bersama siswa dan berinteraksi terkait dengan materi yang sedang berlangsung sehingga siswa benar-benar paham terhadap materi yang disampaikan guru.

3.2 Pembahasan Hasil Penelitian
Makna Down Syndrom sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi kita. Sering kali makna tersebut menjadi bahan diskusi hangat, topik pembicaraan pagi bersama kopi panas atau sekedar obrolan di warung kopi. Tapi intinya masyarakat kita sudah terbiasa berinteraksi dengan Down Syndrom.
Bila kita menengok ke dalam kelas disalah satu SLB (Sekolah Luar Biasa) kita akan menjumpai anak-anak yang mengalami down syndrom. Demikian pula jika kita berada pada ruangan praktek terapi akupuntur, terapi herbalis modern ataupun klinik tumbuh kembang anak. Anak-anak itu seperti masyarakat pada umumnya jika berada pada komunitas mereka sendiri. Bermain, tertawa riang, bercanda, bersenda gurau dan saling berkomunikasi (dengan bahasa dan gerak tubuh yang ‘khas’ mereka).
Barangkali kita lebih mengenal kata AUTHYS ketimbang down sindrom, tetapi sebenarnya relatif sama. Hanya jika penderita authys lebih cenderung complex dan spesifik. Ada penderita autis yang relatif lambat perkembangan otak/mental dan pisiknya dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Ada juga penderita autis yang justru lebih aktif (hyperactive) dan cenderung ingin lebih ketimbang anak-anak yang lain.
Jika kita berada diantara saudara-saudara kita yang menderita down syndrom, perasaan dan hati kita akan dipermainkan oleh suasana sedih, miris, terkadang kita tertawa namun dilain kesempatan kita akan merenung, sedih melihat betapa ujian dan cobaan Tuhan telah datang kepada mereka diusia mereka yang masih sangat belia tanpa mereka sendiri merasakan bahwa mereka mengalami kekurangan/ kelambatan perkembangan. Betapa mereka butuh perhatian dan keikhlasan kita untuk berbagi, bergaul dan tanpa ada perasaan untuk mengucilkan. Tapi kita akan sedikit tertawa jika melihat aktifitas dan pergerakan mereka yang terkadang lucu dan riang, namun tiba-tiba kita juga akan merenung menerawang keadaan dan masa depan mereka dimasa yang berbeda dengan saat ini.
Jika dikaji kembali mengenai ketrlambatan bicara yang dialami Mila, yakni salah seorang siswi kelas IV SD di SLB Negeri C Singaraja, bahwasanya ia juga turut mengalami down syndrom ringan. Berdasarkan hasil penelitian, Mila masih bisa beraktivitas layaknya orang normal lainnya, namun ia memiliki keterbatasan dalam memori otaknya. Mila tidak bisa diberi beban pikiran yang berlebihan, karena otaknya sangatlah lemah untuk hal itu. Disisi lain, bahasa dalam ucapannya pun kurang jelas dan sulit untuk dimengerti jika didengar hanya sekali.
Kemampuan Mila dalam menyimak tergolong cukup, karena jika ia tertarik dengan penyajian materi dari guru, maka ia akan dengan saksama mendengarkannya. Namun sebaliknya, jika guru tidak bisa menggunakan cara mengajar yang baik terhadap anak yang berkebutuhan khusus seperti Mila tersebut, maka anak akan sulit untuk berkembang. Sejatinya, Mila merupakan anak yang aktif dalam kesehariannya dan ia hanya memerlukan perhatian lebih dari orang-orang terdekat yang ada disekelilingnya.
Ibu Kadek Astuti yang selaku guru kelas Mila nyatanya telah berhasil menggunakan metode yang beliau miliki. Berdasakan pengalaman selama menangani anak yang memiliki keterlambatan bicara, bu Kadek telah dapat menunjukkan perkembangan pada diri Mila dan anak asuhnya yang lain. Misalnya dalam hal berbicara, Mila yang dulunya termasuk gugup dalam berbicara dan canggung, kini telah dapat berbicara dengan baik, walaupun sedikit kurang jelas dalam penyampaiannya. Mila yang dulunya tidak bisa membaca sama sekali, bahkan tidak mengenal huruf, kini telah dapat membaca, walaupun ia kurang cakap dalam merangkai huruf-huruf menjadi bacaan kata. Berikut adalah bahan bacaan yang digunakan Mila dalam belajar membaca.

Bahan bacaan yang digunakan Mila dalam belajar membaca
Perkembangan lain dari Mila, yakni ia yang dahulunya tidak bisa menulis, kini telah dapat menulis dengan baik. Upaya dari guru kelas Mila tersebut, yakni dengan cara pendekatan personal telah dapat menjanjikan sejumlah perkembangan bagi anak didiknya.
Melalui cara yang sangat sederhana, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, namun mudah dipahami ternyata dapat lebih merasuk dihati dan pikiran anak didiknya. Hal tersebut juga diimbangi dengan kesabaran dan keuletan, karena anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti Mila tersebut cenderung sangat aktif dalam pergerakannya. Maka dari itu, sangatlah diperlukan pengertian dan perhatian berlebih untuk mereka.
Dalam hal ini, peranan orang tua tidaklah bisa terlepas. Orang tua memiliki andil yang cukup tinggi dalam menyikapi perkembangan anaknya, karena sang anak tumbuh dan berkembang berawal dari keluarga. Mila sendiri memiliki 2 saudara kandung yang tumbuh normal dan orang tua Mila tidaklah pantas jika pilih kasih terhadap anak. Apalagi Mila yang berkebutuhan khusus memerlukan kasih sayang, perhatian dan pengertian yang berlebih guna menindaklanjuti perkembangnnya. Berikut adalah foto Mila bersama ibu dan kedua saudaranya yang tumbuh normal.

Mila dan keluarga
Sejatinya, dalam menangani keterlambatan bicara yang dialami Mila dapat dilakukan dengan cara mengajak ia berinteraksi secara personal, tak henti-hentinya bertanya sampai ia menunjukan respon dengan memrikan jawaban dan mengikuti pola tingkah lakunya. Melalui cara demikian, maka alat ucap Mila akan terlatih untuk berbicara dengan sempurna dan ia pun akan dapat menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Keterlambatan bicara atau down syndrom yang dialami Mila atau anak lainnya sebenarnya dapat dicegah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan down syndrom atau mereka yang hamil diatas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya, karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan down syndrom lebih tinggi. Down syndrom tidak bisa dicegah, karena down syndrom merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlsh kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah semakin tua usia ibu, maka semakin tinggi resiko untuk terjadinya down syndrom.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
4.1.1 Sejarah kelainan atau keterlambatan bicara pada Mila (anak berumur 11 tahun yang mongoloid), yakni awal dari gejala kelainan tersebut adalah ketika proses pembuahan yang telah dimasuki bakteri sehingga pembuahan tidak berlangsung sempurna. Akibatnya, Mila lahir dengan down syndrom dan mengalami keterlambatan bicara. Mila sejatinya bisa melakukan aktivitas seperti anak normal pada umumnya, namun ia hanya terganjal dalam hal berbahasa.
4.1.2 Usaha keluarga dalam menyikapi Mila yang mengalami gangguan atau keterlambatan bicara tersebut, yakni dengan membawanya kedokter ketika masih kecil. Namun, dokter berkata lain, ia tidak mampu mengobati keadaan Mila tersebut. Akhirnya, Mila diajak untuk pengobatan pijat refleksi supaya ia tidak cacat total. Hal itu rutin dilakukan sampai keadaan Mila menunjukkan suatu perubahan. Mila juga sempat diajak ke dukun dan nyatanya Mila telah dapat menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
4.1.3 Upaya guru dalam menangani masalah anak dengan gangguan atau keterlambatan bicara yang terjadi pada Mila, yaitu dengan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, mudah dimengerti, dan terkadang menggunakan bahasa ibu dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga anak dapat menangkap apa yang kita sampaikan. Keterbatasan ingatan pada otak anak, khususnya Mila merupakan salah satu faktor penghambat daya serap otaknya sehingga perlu secara perlahan dalam menanganinya.
4.1.4 Solusi dalam mengatasi gangguan bicara pada anak dalam perkembangannya ialah melalui
1. Penanganan Secara Medis
2. Pendidikan, meliputi (1) Intervensi Dini, (2) Taman Bermain, (3) Pendidikan Khusus (SLB-C)
3. Penyuluhan Pada Orang Tua
4.2 Saran
Berdasarkan hal di atas, ada beberapa hal yang ingin penulis sarankan kepada pembaca diantaranya.
1. Pembelajaran bahasa Indonesia pada anak yang mengalami down sindrome atau keterlambatan/ gangguan bicara dengan menggunakan bahasa yang sederhana, memberikan perhatian lebih, dan peduli kepadanya perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Hal tersebut dikarenakan telah dapat membuahkan hasil perkembangan anak yang signifikan sehingga anak secara perlahan dapat mengejar ketinggalan dari anak yang normal.
2. Kreativitas guru perlu ditingkatkan lagi dalam mencari serta menggunakan media atau metode sederhana lainnya yang dapat digunakan dalam pembelajaran pada anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan bicara. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak hanya berpatokan pada cara guru yang mengajar dengan menggunakan bahasa yang sederhana saja, karena kevariasian suatu metode juga dapat meningkatkan motivasi serta kreativitas siswa dalam pembelajaran khususnya pada anak yang mengalami keterlambatan atau gangguan bicara.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik, Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
Chiniezz. 2009. Sindrom Down. Tersedia pada http://chiniezz.wordpress.com/2009/07/15/sindrom-down/html (diakses tanggal 1 Oktober 2011).
Skep, Varya. 2009. Down Syndrom Pada Anak. Tersedia pada http://varyaskep.wordpress.com/2009/01/21/down-syndrom-pada-anak/html (diakses tanggal 1 Oktober 2011).
Astrit. 2010. Hati-Hati Gejala Down Syndrome. Tersedia pada http://weblogastrit.blogspot.com/2010/04/hati-hati-gejala-down-syndrome-pada.html (diakses tanggal 1 Oktober 2011).
Rere. 2010. Pencegahan Down Syndrom. Tersedia pada http://rere-psikologi.blogspot.com/2010/03/pencegahan-down-sindrom.html (diakses tanggal 1 Oktober 2011).
Septilina, Diah. 2010. Etiologi dan Patogenesis Gangguan. Tersedia pada http://diahseptilina.blogspot.com/2010/04/etiologi-dan-patogenesis-gangguan.html (diakses tanggal 1 Oktober 2011).
Ibu dan Balita (dalam diskusi). 2010. Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak. Tersedia pada http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/2010/Gangguan-bicara-dan-bahasa-pada-anak/html (diakses tanggal 1 Oktober 2011).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar