
KRITIK TERHADAP OPINI YANG DITULIS OLEH
BJE SOEJIBTO :
“DESEMBER, BULAN MENGHABISKAN ANGGARAN?”
DI HARIAN BALI POST SABTU, 17 DESEMBER 2011

oleh
I Gusti Ngurah Risma Junaedi
NIM : 0912011009
Kelas : V B
Mata Kuliah : OPINI
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2011
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia dan segala sesuatu yang dijalankan melalui roda pemerintahan harus turut dikembangkan ke arah kemajuan. Namun, nampaknya orang-orang yang bergelut diroda pemerintahan belum menunjukkan kinerja yang maksimal dan menghasilkan sesuatu yang berharga untuk kemajuan negara. Bagaimana tidak, anggaran negara yang seharusnya dimaksimalkan untuk setahun penuh, nyatanya tidak sesuai dengan target semula sehingga anggaran tersebut tersisa di akhir tahun. Rasanya tidak akan pernah kehabisan akal bagi punggawa pemerintahan untuk mengabiskan dana yang tersisa dan tentunya dengan dalih kepentingan rakyat. Hal tersebut tercermin dari diadakannya seminar, lokakarya, whorkshop, dan awards di akhir tahun yang nyatanya tidak pernah menghasilkan apapun, karena negara butuh tindakan, bukan komentar-komentar dalam pertemuan. Namun, inilah yang terjadi saat ini, sisa anggaran justru dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Berdasarkan hal tersebut, Bje Soejibto turut berpendapat yang dituangkannya dalam opini yang ditulisnya di harian Bali Post, Sabtu, 17 Desember 2011, dengan judul “Desember, Bulan Menghabiskan Anggaran?”. Dalam opininya, ia berpendapat bahwa memang benar para pejabat pemerintahan sering mennghamburkan sisa anggaran dengan mengadakan rapat, seminar, whorkshop atau pun awards di akhir tahun. Anggaran yang tersisa disebabkan oleh ketidakbecusan di dalam perencanaan keuangan dan penyerapan anggaran yang sangat lamban. Akhirnya, dengan dalih kepentingan rakyat, segala kegiatan (rapat, seminar, whorkshop atau pun awards) selalu diupayakan di bulan Desember dengan sistem dadakan. Padahal, di bawah sana masyarakat merintih, karena kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak. Sangat mengherankan jika sisa anggaran di akhir tahun yang tentunya tidak sedikit itu dihabiskan melalui kegiatan-kegiatan yang tidak berguna bagi masyarakat atau pun kemajuan negara. Dalam hal ini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) seharusnya cepat tanggap jika melihat fenomena pemborosan anggaran yang dilakukan oleh kementerian/ lembaga publik lainnya diakhir tahun. Hal tersebut dimaksudkan agar anggaran negara memang benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Disisi lain, pengaruh besar dalam hal keuangan negara yang didatangkan dari para pelaku korupsi juga tidak bisa disepelekan. Para koruptor akan selalu mengeruk uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan akhirnya negara akan merugi, sedangkan rakyat semakin terpuruk. BPK sendiri harus selalu mewaspadai sirkulasi keuangan negara dan apabila terdapat kejanggalan, hendaklah segera dilaporkan kepada KPK agar bisa ditindaklanjuti dan diberi tindakan khusus. Dengan sinergi seperti itu, maka korupsi atau pemborosan uang negara di akhir tahun akan dapat diantisipasi.
Argumen Bje Soejipto sejatinya sangatlah kuat, karena ia turut dapat menyebutkan jumlah sisa anggaran negara secara terperinci, kegiatan yang biasa dilakukan pejabat pemerintahan untuk menghabiskan sisa anggaran di akhir tahun dan terdapat juga salah satu petikan komentar Ketua DPR-RI, Marzuki Alie yang mendukung argumennya.
Namun, kelemahan argumen tersebut terletak pada isi, karena tidak dipaparkan sejauh mana ketidakbergunaan kegiatan rapat, seminar, whorkshop atau pun awards yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan di akhir tahun tersebut. Pada akhirnya, hal itu akan dapat mengurangi daya persuasi atau kesetujuan terhadap argumen yang dilontarkan oleh Bje Soejipto.
Menurut penulis sendiri, kegiatan yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan di akhir tahun, seperti rapat, seminar, whorkshop atau pun awards tidak seutuhnya salah atau bisa dianggap sebagai cara untuk menghabiskan anggaran. Kegiatan tersebut sejatinya memiliki hasil, yakni buah pemikiran terhadap sistem pemerintahan tahun mendatang dengan bercermin pada kesalahan-kesalahan yang terjadi tahun ini dan dalam rapat juga akan bisa dibahas kinerja selama setahun ini. Rapat tersebut bisa dikatakan sebagai rapat akhir tahun atau rapat refleksi dengan agenda pembahasan program kerja yang telah dilaksanakan dan pemanfaatan dana yang ada. Oleh karenya, tidaklah selalu benar jika kegiatan akhir tahun pemerintah hanya untuk menghabiskan sisa anggarana. Hal tersebut dikarenakan, melalui kegiatan-kegiatan itu, maka akan ada arah untuk menjalankan roda pemerintahan yang lebih baik lagi ke depannya dan tentunya untuk kepentingan rakyat juga.
Jika dikatakan bahwa kegiatan seperti rapat, seminar, whorkshop atau pun awards yang selalu dilakukan di akhir tahun oleh pejabat pemerintahan tidak memiliki kontribusi terhadap kemajuan negara atau kemakmuran rakyat dan bahkan hanya membuang anggaran negara, sejatinya adalah kurang benar. Rakyat yang selalu merasa tidak mendapatkan keadilan di negara ini dan selalu merasa diinjak-injak oleh pihak pemerintah adalah sebuah sikap yang wajar. Hal tersebut dikarenakan rakyat tidak melihat kinerja pemerintah secara eksplisit, rakyat hanya melihatnya secara implisit dan memposisikan pemerintah tidak memperdulikan rakyat. Melalui pemikiran-pemikiran cemerlang yang dihasilkan dalam rapat atau seminar para pejabat pemerintahan, maka akan ada solusi di dalam memerangi kematian ekonimi yang dialami rakyat, walaupun hal tersebut belum dapat dirasakan rakyat secara utuh, karena semuanya perlu proses.
Jadi, pada dasarnya mengatakan kegiatan para birokrat bangsa ini di akhir tahun, yakni rapat, seminar, whorkshop atau pun awards sebagai kegiatan untuk menghabiskan anggaran adalah pandangan yang keliru. Hal tersebut dikarenakan belum ada bukti bahwa kegiatan tersebut tidak menghasilkan apapun untuk kesejahteraan rakyat.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus