Minggu, 25 Desember 2011

Kunjungi Dapur Sebelum Masuk ke Bangunan Utama Rumah


           Sejak dahulu, Bali memang dikenal sebagai daerah yang kental dengan nilai realigi dan mistiknya. Hal tersebut menjadikan Bali sebagai daerah yang sakral dan tentunya dengan taksu yang turut dimiliki. Berbagai aliran ilmu hitam juga sejak dahulu sudah menghuni Bali, seperti sebuah warisan nenek moyang yang dilestarikan oleh generasinya.
            Ilmu-ilmu hitam tersebut tentunya dipakai untuk menyakiti orang lain/ orang yang dibenci sehingga istilah “gaib” serasa sudah tidak asing lagi digenderang telingan masyarakat Bali. Istilah “leak” pun kian dikenal sampai saat ini, bahkan wisatawan kerap kali mengenal “leak” sebagai ciri khas Bali. Sejatinya, ilmu “pangleakan” bukanlah ilmu yang baik untuk dipelajari, karena didalamnya terkandung ajaran yang akan menjauhkan para penganut dari Tuhannya sendiri. Sampai saat ini, ilmu hitam ini masih berkembang di Bali, khususnya di daerah pedesaan atau pedalaman yang belum banyak terjamah oleh teknologi.
Konon, keluarga yang memiliki bayi atau pun ada orang sakit dalam sebuah rumah harus selalu waspada dengan lingkungan sekitar. Pasalnya, rasa iri yang dimiliki orang lain terhadap suatu keluarga biasanya diiringi dengan niat untuk menyakiti selagi ada celah/ kesempatan untuk melakukannya. Orang-orang yang berilmu hitam atau sering dikenal dengan ilmu ”pangleakan” ini akan senantiasa mengintai keluarga yang memiliki bayi atau orang sakit untuk dijadikan tumbal atau hanya sekadar ingin menyakiti.
            Memang sangat mengherankan, rasa iri hati yang dimiliki dilampiaskan dengan menyakiti orang lain atau hanya untuk kepentingan ilmu hitam yang digeluti sehingga mengorbankan orang lain. Namun, ilmu hitam tersebut tidaklah selalu akan menang atau berkuasa, karena nilai spiritual sebagian masyarakat Bali juga tinggi. Untuk menangkal segala ilmu hitam yang datang dari orang lain ataupun butha kala sewaktu dalam perjalanan menuju rumah dapat dilebur di areal dapur rumah.
Dapur yang sering dikenal sebagai tempat memasak atau pun tempat makan ternyata dapat menetralisir ilmu hitam atau pun butha kala yang mengikuti sampai ke rumah. Oleh karena itu, anggota keluarga yang berpergian hendaknya mengunjungi dapur terlebih dahulu sebelum ke bangunan utama rumah ketika sudah pulang/ datang dari luar. Dahulu pernah kejadian dalam suatu rumah di daerah Tulikup, Gianyar yang penghuninya tidak ke dapur terlebih dahulu ketika sampai di rumah. Alhasil, bhuta kala atau segala ilmu hitam mengikutinya sampai di dalam kamar. Sampai akhirnya penghuni rumah tersebut mengalami perasaan tidak tenang (seperti dihantui) dan tiba-tiba jatuh sakit tanpa sebab yang pasti. Hal tersebut menandakan bahwa, terkadang kita tidak mengetahui bahwa, seperti orang Bali katakan, jalanan yang manusia gunakan juga dilalui oleh mahluk niskala (gaib). Namun, pada dasarnya manusia tidak semuanya dapat melihat mahluk gaib tersebut, karena hanya orang-orang tertentu yang memiliki indera keenam yang dapat melihatnya. Tidak jarang juga mahluk gaib itu mengikuti manusia ketika dalam perjalanan sampai ke rumah sehingga perlu adanya upaya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Berdasarkan hal tersebut, bagi sebagian masyarakat Bali yang percaya, bahwa bangunan dapurlah yang memliki kelebihan untuk menetralisir segala bentuk ilmu hitam/ mahluk niskala (gaib) yang mengikuti para penghuni rumah. Sebagian masyarakat Bali percaya bahwa yang berkekuataan di dapur adalah Dewa Brahma sebagai dewa penguasa api (agni) dan gunung berapi sehingga segala pengaruh negatif yang didatangkan dari luar akan dapat dilebur. Terkait dengan hal itu, bahwasanya di dalam dapur memang sering dilakukan aktivitas yang memanfaatkan api sebagai sarananya, seperti kegiatan memasak.
Brahma adalah dewa yang menduduki tempat pertama dalam susunan dewa-dewa Trimūrti, sebagai dewa pencipta alam semesta. Mitologi tentang Brahma muncul pertama kali dan berkembang pada zaman Brahmāna. Brahma dianggap sebagai perwujudan dari Brahman, jiwa tertinggi yang abadi dan muncul dengan sendirinya. Menurut kitab Satapatha Brahmāna, dikatakan bahwa Brahmalah yang menciptakan, menempatkan, dan memberi tugas para dewa. Sebaliknya, di dalam kitab Mahabharata dan Purana dikatakan bahwa Brahma merupakan leluhur dunia yang muncul dari pusar Wisnu. Sebagai pencipta dunia, Brahma dikenal dengan nama Hiranyagarbha atau Prajapati. Beberapa orang bijaksana juga memberinya gelar sebagai Dewa api dan Dewa Brahma saktinya adalah Dewi Saraswati yang menurunkan segala ilmu pengetahuan ke dunia.
            Oleh sebab itu, dengan perlindungan para Dewa, khususnya Dewa Brahma yang diyakini oleh sebagian masyarakat bertempat di dapur dengan gelar Dewa Api akan dapat melindungi masyarakat dari segala pengaruh negatif dari luar. Namun, hal tersebut haruslah dibarengi dengan ketaatan umat dalam melakukan bakti kepada Tuhan dengan segala persembahan yang tulus ikhlas. Berbuat baik kepada setiap orang juga akan dapat mengurangi pengaruh negatif kepada keluarga, karena tidak akan ada dendam yang datang dari orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar